Refleksi – Menghidupkan Nilai di Ruang Kelas

Posted: January 28, 2012 in Teaching Reflection
Tags: ,

Di pertemuan-pertemuan awal semester, sebelum memulai pelajaran saya selalu menyempatkan diri untuk mengecek kerapian pakaian siswa dan kebersihan kelas. Tak jarang sayapun harus ikut memunguti sampah yang terserak dan mulai menceritakan kisah-kisah inspiratif tentang hidup rapi dan bersih.  Diam-diam saya mengamati, dengan frekuensi pertemuan dua kali seminggu, saya mendapati rata-rata pada minggu keempat saya tidak perlu lagi bersusah payah mengecek kebersihan  dan meminta siswa merapikan pakaian. Siswa sudah melakukannya sebelum saya masuk ke kelas!

Beberapa hal menarik yang saya pelajari dari pengalaman ini. Merupakan hal penting dalam mengajarkan nilai-nilai kehidupan semacam ini adalah mendorong siswa untuk mewujudkan nilai menjadi tindakan nyata. Tak cukup sekali, siswa perlu berulang kali diingatkan dan melakukannya lagi hingga menjadi bagian dari kebiasaannya. Maka konsistensi guru untuk selalu mengingatkan dan kelapangan hatinya untuk menuntun siswa menginternalisasi prilaku yang diharapkan menjadi bagian penting dalam tahap pembiasaan ini. Menyisipkan kata  “Tolong” nampaknya lebih berterima di telinga siswa ketika kita mengharapkan mereka melakukan tindakan tertentu dibandingkan dengan menggunakan kalimat perintah seperti “Rapikan pakaian kalian!”.

Agar siswa tergerak untuk melakukannya maka menjadi tugas guru untuk melakukan penyadaran nilai. Siswa perlu tahu dan paham tentang makna penting menerapkan nilai-nilai tertentu. Penolakan siswa untuk melakukan hal-hal tertentu kerap berawal dari ketidak pahaman mereka tentang pentingnya prilaku tersebut – bukan bentuk pemberontakan dan bukan pula penghinaan atas martabat guru. Maka guru tak perlu merespon hal-hal semacam ini dengan reaksi emosional. Siswa hanyalah orang muda yang belum paham dan didalam ketidakpahaman mereka itulah kehadiran guru dibutuhkan.  Guru hanya perlu mengubah cara pandang siswa. Untuk itu, penting bagi guru mengajak siswa berdiskusi singkat tentang pentingnya menghidupkan nilai-nilai tertentu dalam prilaku. Guru bisa memulainya dengan cerita yang dekat dengan kehidupan siswa lantas meminta siswa merefleksikannya. Tak butuh waktu banyak untuk mendiskusikannya maka tak perlu khawatir jam pelajaran akan kurang.

Saya juga memperhatikan bahwa membuat kesepakatan dengan siswa tentang nilai-nilai yang harus di junjung selama semester itu dapat mendorong siswa lebih bertanggung jawab terhadap segala tindakannya. Saya mendapati siswa lebih berani mengakui penyimpangan nilai yang dilakukannya sebelum saya mencari tahu pelanggaran apa yang sudah mereka perbuat hari itu. Selain itu, meluangkan waktu untuk mengisi diary mengajar sangat memudahkan saya dalam melakukan penyadaran nilai. Catatan semacam ini membantu saya menemukan permasalahan utama yang terjadi dibalik penyimpangan nilai yang dilakukan oleh siswa. Penyimpangan nilai yang dilakukan siswa sebenarnya hanyalah gejala atas suatu permasalahan lain. Permasalahan utamanya itulah yang perlu guru identifikasikan dan pecahkan daripada sekedar mempermasalahkan prilaku menyimpangnya.

Namun faktor terpenting dalam mengajarkan nilai adalah sosok guru yang  berperan sebagai teladan yang menerapkan nilai-nilai kebajikan di dalam hidupnya. Siswa menginternalisasi prilaku dengan mengimitasi dari model yang ada di dalam hidupnya, dalam hal ini adalah guru.  Siswa tak akan mendengarkan dan enggan mendiskusikan makna penting kerapian dan kebersihan dari seorang guru yang tidak rapi dan tidak bersih. Maka kita sebagai guru hendaknya terlebih dahulu mendidik diri.

Yang saya alami, saya hanya perlu bekerja keras di minggu-minggu awal semester untuk memastikan penegakkan nilai-nilai tertentu, selebihnya saya akan menyaksikan siswa menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam pertemuan-pertemuan yang kami miliki sepanjang semester.

(Widie Dewantara – Menjelang dini hari – Kamar Tidur)

Advertisements
Comments
  1. Norma says:

    Saya juga melakukan itu. Memang lama-lama siswa mulai rapi baik diri maupun ruang kelas mereka. Dalam jangka waktu tertentu, aturan tersebut mulai mengendur dan saya ingatkan lagi. Satu yang saya masih susah menghilangkan—- mengingatkan dengan nada agak tinggi jika kelasnya berantakan sekali ;(-_________-)a
    Padahal itu sangat tidak enak baik bagi siswa maupun saya. Lagi mencoba mengurangi 🙂

  2. gita says:

    bagus apa yang telah dilakukan oleh pak guru, untuk di sekolahku tak bisa hanya dua minggu atau sebulan…anak berubah, namun ada satu dua tiga empat selama tiga tahun juga belum sembuh dari penyakitnya, tidak hanya satu dua guru melakukan hal yang sama tapi hampir tiap guru….jadi kesimpulannya?? tergantung juga dengan bahan dasarnya…

  3. Widie Dewantara says:

    Bu norma, semoga kita selalu diberikan ketetapan hati untuk terus mengajarkan mereka tentang kerendahan hati. Selamat berjuang guru dahsyat!

  4. Widie Dewantara says:

    Ibu hebat, senang bisa berjuang bersama ibu … tapi jangan2 dibelakang kita siswa juga menulsikan yang sama:”tergantung juga dengan gurunya.” Apapun itu semoga tidak menghentikan langkah kita untuk memanusiakan mereka.

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s