REFLEKSI – Mengajarkan Berterima Kasih, Mendidik Berendah Hati.

Posted: February 8, 2012 in Teaching Reflection

“Stand up, please”, aba-aba dari ketua kelas. Siswa yang lain serentak berdiri. “Say thank you,” lanjut sang ketua disambut dengan ucapan “Thank you, Uncle” oleh seluruh siswa. “Terima kasih atas segala kelembutan hati dan kerasnya ikhtiar dalam belajar. I’ll be seeing you next week. Bye” balas saya lalu meninggalkan kelas. Kira-kira demikianlah potongan sistuasi di setiap akhir pelajaran.

Mengucapkan terima kasih, sedang diupayakan untuk menjadi bagian dari budaya kelas kami. Ketika siswa menerima hasil pekerjaan mereka yang sudah saya koreksi, seringkali saya tidak melepaskan hasil pekerjaan mereka dari tangan saya sampai mereka mengucapkan terima kasih. Bukan dikarenakan merasa telah berjasa, hal ini semata-mata hanya upaya mengkonstruksi keutamaan hidup di dalam prilaku mereka. Siswa SMP di sekolah saya masih perlu diajarkan  dan diingatkan untuk berterima kasih.

Tak lupa, saya selaku guru juga perlu meneladankan rasa terima kasih pada apapun yang telah siswa lakukan bagi kepentingan bersama. Kesediaan siswa untuk membantu dan bekerjasama dari sekedar mengambilkan kapur, memungut sampah, mengerjakan PR, atau hanya sekedar merapikan pakaiannya sendiri, perlu direspon dengan ucapan terima kasih. Di akhir pelajaran ketika siswa meninggalkan laboratorium bahasa, saya berdiri di depan pintu, menyalami mereka dan menyampaikan rasa terim kasih saya karena mereka telah bersedia belajar bersama. Kebiasaan sederhana ini membantu saya dan siswa mengikhlaskan segala amarah dan membangun hubungan yang saling menghargai.

Kiranya prilaku siswa yang jauh dari sikap menghargai, memelihara dan menebarkan kebaikan bisa jadi bermuara dari kealpaan kita mengajarkan makna berterimakasih. Siswa yang paham berterimakasih pastilah akan menghargai jerih payah guru dan orangtuanya. Kemampuan siswa untuk berterimakasih juga terefleksikan dalam sikapnya memelihara lingkungan sekitar – jauh dari prilaku merusak. Hanya siswa yang sadar untuk berterimakasih yang akan memanfaatkan kesempatan belajarnya sebaik mungkin serta rela melakukan sesuatu demi kepentingan bersama. Jika bercita-cita siswa kita tumbuh sebagai orang muda yang mampu berterima kasih, maka guru dapat meniti impiannya melalui ruang kelas.

Berterima kasih, merupakan ekspresi pujian, penghormatan terhadap orang lain sekaligus pengejawantahan dari rasa syukur atas rezeki – waktu, sahabat, kebahagiaan, apapun bentuknya – yang telah DIA karuniakan. Ucapan terima kasih merupakan bentuk pengakuan atas bantuan TUHAN yang disampaikan melalui tangan orang-orang disekitar kita. Dengan demikian, berterima kasih sesungguhnya bentuk kesadaran diri atas arti penting kehadiran orang lain sekaligus pengakuan atas ketidakberdayaan diri tanpa belas kasihNYA. Mengajarkan berterima kasih sama artinya mengajarkan berendah hati, sebuah prasyarat yang diperlukan untuk kebahagiaan hidup kita dan siswa-siswa kita.

(Widie Dewantara – Disela Waktu Mengajar – Kantor Guru SMP Negeri 10 Yogyakarta)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s