ULASAN BUKU – Menjadi Guru Untuk Muridku: Sebuah Refleksi Pengajaran

Posted: February 20, 2012 in Book Review

Melihat nama ST. Kartono dibagian atas serta foto suasana di kelas pada halaman sampul sudah bercerita pada pembaca bahwa buku ini bertemakan pendidikan. Lebih jauh, nama ST. Kartono sudahlah tidak asing lagi bagi para penggeliat pendidikan. Penulis yang juga seorang guru di SMA Kolese De Britto Yogyakarta sekaligus dosen di Universitas  Sanata Dharma seringkali hadir sebagai provokator handal di berbagai forum ilmiah kependidikan. Tulisan-tulisannya yang bernuansa menebarkan semangat mendidik seringkali dijumpai di berbagai media massa cetak.

Setelah menginspirasikan pelaku pendidikan dengan buku-bukunya yang terdahulu, ST. Kartono kali ini kembali menunjukkan kepiwaiannya dalam mengkonversi gagasan menjadi rangkaian kata dan kisah yang menggugah dalam bukunya “Menjadi Guru Untuk Muridku”. Kemampuannya membahasakan pengalamannya sebagai seorang pendidik memahamkan pembaca betapa besar dan pentingnya peran yang dilakoni oleh guru dalam kehidupan tiap diri anak didiknya. Gaya bahasa yang ringan namun sarat makna ini menunjukkan betapa penulis merupakan penutur yang cerdas dalam mengasosiasikan kata.

Buku ini lebih merupakan refleksi terhadap apa yang penulis rasakan dan saksikan selama sekitar dua dasawarsa menjadi seorang pendidik. Dalam buku ini, ST. Kartono meramu kejadian nyata yang sangat lazim kita (pendidik) alami, lalu membumbuinya dengan muatan pendidikan yang kental dan akhirnya, berujung pada penyajian nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai kerja keras, belajar tekun,  jujur, berbagi, sabar, menghargai serta bersyukur menjadi sajian lezat yang menggugah nafsu baca penikmatnya.

Kisah-kisah yang diangkat dari praktik pengajaran yang penulis lakukan di dalam kelas, kejadian-kejadian dilingkungan sekolah, perjumpaannya dengan para guru hingga pengalamannya mengunjungi sekolah di Nabire tertatata singkat namun apik dalam 3 atau 4 halaman. Dengan demikian pembaca dapat dengan nyaman mengambil hikmah dari kisah manapun. Kisahnya pun sangat menggelitik pikiran dan perasaan pembaca untuk kemudian mengajak pembacanya berefleksi diri. Yang menarik, penulis menyikapi berbagai permasalahan pendidikan yang ada secara berimbang dari sisi guru maupun siswa. Tak ada yang dipersalahkan atau dikambing hitamkan dalam buku ini. Karenanya, buku ini mampu menyadarkan pembacanya bahwa satu-satunya yang harus berubah lebih dahulu adalah diri kita – para pendidik.

Dengan mencantumkan gagasan dari penulis lain seperti Carl Glickman, John McGrath, Marry Leonhart, Suparno ataupun Douglas Brown, menunjukkan betapa penulis juga seorang pembaca yang terbuka pemikirannya. Namun sayangnya, ketika penulis mengacu gagasannya pada buku yang ditulis oleh penulis lain,  pembaca akan sulit menemukan buku yang dimaksud karena acapkali penulis tidak menyertai judul buku – hanya nama pengarang dan tahun. Mengetahui judul bahan bacaan lain di bagian akhir buku kiranya masih menjadi kebutuhan pembaca yang hendaknya dipenuhi penulis. Meskipun demikian, tentunya ketulusan penulis untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan tidak berkurang karenanya.

(Widie Dewantara – Menejelang Waktu Dhuhur – Laboratorium Bahasa SMP Negeri 10 Yogyakarta)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s