ULASAN BUKU – Mendidik Dengan Hati: Hal-hal Sederhana Yang Sering Terabaikan

Posted: February 21, 2012 in Book Review
Tags: ,


“Mendidik Dengan Hati” diterjemahkan oleh Edriyani Azwaldi dari buku  aslinya yang berjudul “Connecting With Student” karya Allen N. Mendler. Penulis adalah seorang psikolog sekolah dan konsultan pendidikan di Amerika. Pada tahun 1995 atas keberaniannya dalam melakukan pendekatan dengan remaja bermasalah, penulis dianugerahi  Crazy Horse Award.  Buku aslinya diterbitkan pada tahun 2001 dan baru diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia oleh Kaifa sembilan tahun kemudian.

Mendler mengawali tulisannya dengan menyodorkan realita betapa buruknya lingkungan tempat dimana siswa-siswa kita dibesarkan saat ini. Kita hidup di zaman ketika anak-anak yang sedang tumbuh berada dalam lingkungan yang kurang menguntungkan. Teknologi  tinggi memberikan kepuasan secara instan dan menciptakan keterasingan dari kelompok masyaraktanya, media massa memaparkan berbagai tindak kekerasan dan membentuk sikap apriori terhadap sesama,  berkembangnya pola pergaulan yang didominasi oleh obat-obatan dan seks dan masih banyak lagi faktor  luar yang turut membentuk persepsi negatif siswa kita terhadap dirinya dan masyarkatnya. Realitas budaya  ini pada akhirnya mengurangi kemampuan mereka untuk beradaptasi dan menjadi korban atas budayanya sendiri. Akibatnya, siswa akan terus menerus menunjukkan sikap buruknya sebagai ekspresi kekecewaan mereka terhadap ketidakmampuan diri.

Menghadapi perubahan prilaku yang jauh dari pengharapan, orang tua tak lagi mengerti hal terbaik apa yang harus mereka lakukan untuk anaknya. Sekolah adalah satu-satunya harapan yang orang tua punya. Mereka melimpahkan tugas mendidik sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah dituntut untuk mencapai standar yang tinggi seraya menangani kecerdasan majemuk siswa tanpa memperdulikan berbagai kondisi pribadi dan sosial yang mempengaruhinya. Dalam kondisi yang saling menekan semcam ini, sekolah baru dapat menjalankan tugasnya untuk mendidik jika prasyarat utamanyanya terpenuhi: menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan psikis dan fisik.  Kemampuan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman sangat berpengaruh positif pada kompetensi akademik dan sosialnya. Maka misi pertama yang harus dicapai oleh sekolah adalah mengembalikan fungsinya sebagai tempat dimana siswanya dapat merasakan kasih sayang, saling peduli serta aman dari kekerasan emosional dan fisik – hal langka  yang mereka dapati di luar sekolah. Pemenuhan kebutuhan ini akan medorong siswa untuk mencapai pemenuhan kebutuhan berikutnya yaitu kebutuhan untuk berprestasi dan mandapat pengakuan sosial.

Kemampuan sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman sangat berpengaruh positif pada kompetensi akademik dan sosialnya.Jika keberhasilan belajar  siswa dapat diukur berdasarkan pada perkembangan kompetensi akademik dan sosialnya, maka, menurut Mendler, guru memiliki peran sentral dalam membangun lingkungan sekolah yang mendukung perkembangan kompetensi akademik dan sosial ini. Ungkapan kepedulian, kasih sayang, dan perlindungan guru membantu terciptanya lingkungan belajar yang kondusif. Namun, seringkali kita – para guru – abai menghidupkan nilai-nilai ini.

Oleh karenanya, dalam rangka membangun lingkungan sekolah yang penuh dukungan dan semangat,  Mendler menawarkan 3 strategi untuk membangun ikatan personal dan mendukung perkembangan akademik dan sosial siswa. Dalam membangun ikatan personal, Mendler menawarkan kiat-kiat yang dapat digunakan para guru untuk membangun hubungan yang hangat dengan siswanya. Hal-hal sederhana seperti menyambut siswa di depan pintu kelas atau gerbang sekolah, menyampaikan ucapan ulang tahun, mengajukan pertanyaan seputar pendapat siswa, mengajar dengan antusias, menghubungi siswa ketika dia tidak hadir di kelas merupakan hal-hal sederhana yang seringkali terlupakan oleh guru. Mendler juga menuliskan bagaimana guru dapat memberikan dukungan pada siswa agar mereka dapat meningkatkan kompetensi akademisnya. Salah satunya, Mendler menyarankan agar guru berhati-hati dalam  memilihkan materi pelajaran dan menyampaikannya kepada siswa. Menghubungkan materi pelajarannya dengan isu terkini   merupakan upaya yang dapat guru lakukan untuk meningkatkan kebermaknaan materi bagi siswa. Selanjutnya, penulis juga memandang perlu bagi guru untuk menumbuhkan ikatan kebersamaan antar siswa. Dalam membangun ikatan sosial ini, kelas semestinya dipandang sebagai  sebuah komunitas dimana setiap individu didalamnya saling mendorong pencapaian yang tinggi dan saling berbagi.

Dalam buku setebal 133 halaman,  Endriyani Azwaldi sangat piawai membahasakan kembali kiat-kiat yang digagas Mendler.  Buku ini semacam buku panduan “don’t sweat small stuffs for teachers”. Kiat-kiat yang sangat bermanfaat untuk menanamkan nilai-nilai moral ditengah krisis karakter yang sedang dihadapi oleh pendidikan kita. Dengan berbekal pengetahuan semacam ini,  sekolah dapat kembali menumbuhkan harapan-harapan  untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi  di masa yang akan datang. Tak peduli betapa buramnya realita kehidupan siswa kita, seberkas cahaya itu selalu ada, dan hanya dengan ketulusan hati sajalah, guru dapat menghidupkannya.

(Widie Dewantara – Menjelang Ashar – Internet Cafe)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s