REFLEKSI – Saya Menamainya “Self-Learning” Session.

Posted: August 10, 2012 in Teaching Reflection
Tags: , ,

“Well, we have 3 minutes  to tell ourselves what we have learnt so far”, seru saya kepada para siswa.
“Champs!”, suara saya memecah keheningan.
“Yes!?” siswa serta merta merespon saya.
“Let’s do it!” saya berdiri di depan kelas dengan tangan terkepal.
Serentak siswa kelas tujuh itupun bertepuk tangan satu kali dan mengepalkan tangannya dengan semangat meneriakkan “OK!”. Sejenak kemudian mereka  larut dalam “self learning” session.

Salah seorang siswa menggerak-gerakkan bibir, membaca catatannya tanpa suara.  Seorang siswa di barisan depan menggerak-gerakkan tangannya menulis di udara. Lain pula dengan seorang siswa yang duduk di pojok belakang, ia memejamkan mata dan berkomat kamit seolah membaca mantra untuk mengingat kembali adegan dialog di sesi sebelumnya. Ada pula yang menambahkan beberapa coretan-coretan kecil pada catatannya dengan bulpen warna-warni.  Sementara seorang siswi menatap langit-langit mevisualisasikan tulisan yang sejak awal sengaja saya tata rapi dipapan tulis. Siswa-siswa itu sedang mencoba memahami materi pelajaran yang baru saja kami diskusikan beberapa saat sebelumnya. Semua berdikusi dengan dirinya, memberdayakan belahan otaknya, menanyakan hal-hal yang terlintas di kepala lalu menjawabnya sendiri atau menyimpannya untuk ditanyakan nanti. Kelas menjadi senyap. Hanya alunan musik instrumentalia bertempo 60 yang terdengar dari speaker yang terhubung dengan laptop saya. Meski mereka duduk tenang, namun energi belajar berlarian kesana-kemari mengisi ruang kelas.  Pemandangan yang menyenangkan bagi saya.

“Self learning” session saya menyebutnya. Strategi belajar sederhana yang selalu saya latihkan di dalam pelajaran bahasa Inggris yang saya ampu. Dalam setiap pertemuan, saya sengaja memotong-motong informasi dan menyisipkan strategi ini, dengan harapan siswa tidak hanya sekedar tahu, tetapi juga paham bahkan mampu mengevaluasi pemahaman diri.  Dalam dua jam pelajaran (2 x 40 menit), saya meminta siswa melakukannya dua sampai empat kali dengan jeda waktu tertentu (diakhir tiap poin penting yang kami diskusikan).  Yang mereka lakukan hanyalah melakukan refleksi – berbicara pada diri sendiri – tentang  apa yang mereka pelajari dengan gaya belajar mereka masing-masing.

Selama tiga menit setiap sesinya, siswa berkesempatan menyusun kembali kepingan pengetahuan yang terserak. Ya, hanya sekitar tiga menit!  Ketimbang menyuruh siswa untuk mempelajari buku teks berjam-jam dalam sekali baca lebih baik melatihkan mereka berefleksi tiga menit namun berkali-kali. Sedikit namun berulang kali akan lebih memudahkan siswa mengingat dan memahami.

Seberapa penting kegiatan ini? Saya melakukannya hanya dikarenakan keterbatasan pengetahuan saya tentang bagaimana otak belajar.  Yang saya pahami, otak kita menyerap informasi melalui indera  lalu mengaitkannya dengan informasi yang sudah ada sebelumnya dan menyimpannya dalam pola pemahaman tertentu.  Agar dapat memahami dengan baik, otak kita butuh pengulangan informasi. Bagaimana cara informasi ini tersusun dan dipahami oleh siswa bersifat unik – tiap siswa mempunya cara yang berbeda. Untuk memenuhi kebutuhan otak mengulang informasi, siswa harus diberikan sejumlah kesempatan untuk merefleksikan potongan informasi tersebut dan berlatih menyimpan dan menyusunnya di kepala melalui “self talk”.  Itulah yang terjadi dalam “self learning” session.

Kegiatan ini membantu siswa untuk merekonstruksi kembali pengetahuannya – menambahkan informasi baru atau mengganti informasi yang salah. Secara natural, kitapun belajar dengan cara yang sama dan saya hanya membawa praktik serupa ke dalam ruang kelas.   Mungkin bagi beberapa guru lain terlihat aneh. Karena yang nampak adalah siswa seolah sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata. Tak apalah, semoga keanehan ini kelak  yang akan menjadikan mereka pembelajar kritis dan mandiri.

Memang tak mudah membiasakan mereka untuk melakukan ini. Saya harus terlebih dahulu melatihkan mereka berbagai strategi belajar lain. Saya harus terlebih dahulu mengajari mereka cara membuat dan menyimpan catatan, mengingat, berkonsentrasi, membaca, berdikusi bahkan melatihkan cara mengatasi hambatan emosional. Betapa semua kita – para guru – menyadari pentingnya ketrampilan-ketrampilan belajar tersebut namun banyak diantara kita tak pernah melatihkannya. Dibenak saya, ketika saya menuntut siswa mencapai kompetensi tertentu, saya harus  memastikan sebelumnya bahwa saya sudah menyediakan daya dukung yang sesuai. Melatihkan ketrampilan belajar merupakan salah satunya.

Tiga menit berlalu, saya kecilkan volume musik dari album Kenny G. “If you know what we have learnt, raise your hand”, semua siswa mengangkat tangannya tinggi dan tersenyum lebar.  Saya selalu mengakhiri sesi “Self Learning” ini dengan meminta siswa bercerita tentang apa yang dipahaminya. Beberapa pertanyaan evaluatif dari guru atau siswa lain bisa dijadikan bahan untuk didiskusikan.  Dengan meminta siswa saling menjelaskan dan mempraktekan apa yang mereka pahami  atau saling memberikan pertanyaan menjadikan mereka lebih sadar tentang tingkat pemahaman mereka.  Kegiatan diskusi diakhir sesi juga membantu mereka  mengetahui poin-poin penting yang perlu diingat dan saling dikaitkan.

Kalau sudah begini, saya tidak lagi merasa menjadi guru, karena tugas saya untuk menjelaskan di kelas sudah mereka gantikan, mereka saling mengajari dan mengoreksi. Bagi saya, belajar bukan sekedar ketika siswa duduk patuh mendengarkan gurunya berceramah hingga bel pergantian jam menggema, bukan pula duduk diam mengerjakan puluhan soal pada lembar-lembar LKS Bahasa Inggris tanpa penjelasan sebelumnya. Bukan…saya yakin bukan itu. Belajar adalah ketika siswa bisa menjelaskan apa yang mereka lakukan dan melakukan apa yang mereka jelaskan. Sementara saya – “uncle” begitu mereka memanggil saya – hanya berdiri menatap pupil mata mereka yang melebar dan memikirkan hal apa lagi yang bisa saya persembahkan bagi kebaikan mereka?

(Widie Dewantara – Setelah shalat Dhuhur – Perpustakaan SMP 10 Yogyakarta)

Advertisements
Comments
  1. Wawan pilex says:

    Mantap infonya..sya blum pernah menemui self learning kya itu win..patut di coba..sya jg msih kesulitan mengajarkan, bagaimana cara belajar siswa..thanks dah berbagi brada..menambah wawasan q ne

  2. Widie Dewantara says:

    Selamat mencerdaskan bangsa, sobat

  3. april DM says:

    your written inspires me a lot. Thanks for sharing brother.. Reflecting ur written reminds me that I still need learn much to be inspiring teacher, to teach them how to learn. So far, I did it too, but by telling them not inspiring them. Ur written gives me new way to teach my students..
    thanks awink..

  4. Widie Dewantara says:

    Often times,our students taught us much how to teach them… I’m just trying to be their good student and they told me how to cope with the situation…

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s