REFLEKSI – Strategi Marah Yang Membelajarkan

Posted: August 26, 2012 in Teaching Reflection
Tags:

Siang itu, kelas cukup panas,  saya berdiri tepat dihadapan Galih yang tidak mengerjakan PRnya. “Tell me why!”,  suara saya meninggi. “Lupa uncle.” jawabnya tertunduk, menyembunyikan wajah pucatnya. “Hah? Lupa!? Enak saja!” pikiran arogan saya menggerutu di dalam hati. Sesaat, terpecik api amarah didada. Tercium aroma kesabaran yang hangus terbakar emosi. Nafas menjadi lebih pendek seolah kehabisan oksigen, jantung berpacu cepat bak sirine pemadam kebakaran, kuping dan mata terasa panas, otak bergerak cepat untuk menyusun logika menyalahkan,  bibir terkatup rapat siap menyemprotkan amarah.

Namun tiba-tiba, “Pssst! … boleh aja sih marah asal konstruktif” bisik pikiran bijak saya. “Lagipula kita sama-sama tahu kalau kamu dulu bahkan lebih lalai dari dia! ” pikiran itu terus menggelitik saya. Hahaha…saya mengakhiri perseteruan kedua kubu pikiran saya itu dengan menertawai diri sendiri. Dalam keterbatasan pengetahuan saya,  saya melatih diri untuk merespon keadaan apapun dengan cara yang bisa saya tertawai dan syukuri. Kalau sudah begini, ada perasaan nyaman yang menyelimuti dada. Perasaan inilah yang kemudian membimbing saya pada pikiran yang jernih sehingga saya bisa menyusun skenario “marah”.

Skenario marah? Lucu memang, tapi bagi saya bahkan marahnya seorang gurupun butuh “Lesson Plan”.  Ya, marah! Tapi guru harus marah dengan cara yang membelajarkan.

Saya tarik nafas dalam-dalam meredakan gejolak amarah. “So, you haven’t finished your homework. And it’s unacceptable in our class, right?”  saya mencoba tersenyum pada Galih. Galih mengangguk pelan, gelisah menanti kalimat saya berikutnya. “Uncle paham, kamu tidak bermaksud melupakan tugas ini, tapi bagaimanapun kelalaian ini tetaplah sebuah pelanggaran, setuju?” saya mencoba berempati dan mendapatkan persetujuan darinya. “Iya uncle”, jawab Galih pendek. Jawaban Galih merupakan indikator bahwa dia membuka  pintu hatinya untuk menyimak kata-kata saya. Maka berikutnya, saya mengarahkannya untuk berempati dengan perasaan saya. “Menurut kamu, apa yang  uncle rasakan ketika  kamu tidak mengerjakan PR?” tanya saya. “Kecewa, uncle. Maaf”, Galih menjawab. Tubuhnya semakin merendah menunjukkan perasaan bersalah. Ketika Galih mampu berempati maka dia juga mampu menentukan sikap untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya. Saya bergeser ke sisi Galih berharap dapat mengubah mode interaksi otoriter menjadi kerjasama. “Jadi apa yang harus kamu lakukan untuk memperbaiki kesalahan ini?” tanya saya kemudian. Sejenak dia berpikir.  “Saya minta tugas tambahan, uncle”, pintanya . Selesai sudah, marah saya terpuaskan ketika Galih mengetahui betapa kecewanya saya dan sanggup bertanggung jawab atas pelanggarannya tanpa harus ketinggalan pelajaran. Berempati, meminta maaf dan bertanggung jawab merupakan ketrampilan yang ingin saya ajarkan melalui amarah saya.

Dalam menghadapi konflik-konflik serupa, saya mencoba untuk mengungkapkan kekecewaan sedemikan hingga berakhir pada solusi dan semoga tidak meninggalkan sakit hati. Selaku guru, saya menyadari bahwa kearah mana sebuah konflik guru-siswa akan tumbuh tidak semata terletak pada pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. Konflik tersebut akan mereda atau memburuk bergantung pada respon guru. Guru dapat mengendalikan perkembangan konflik kearah positif dengan bersikap (merespon) dalam cara-cara yang positif.

Agar pelanggaran berkembang kearah solusi,  penting bagi saya untuk menyusun langkah-langkah marah yang membelajarkan seperti potongan kejadian diatas. It sounds weird but it works.  Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengendalikan gejolak emosi diri. Melihat permasalahan dari berbagai sisi, berempati kepada siswa, mengambil nafas dalam-dalam dan tersenyum merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi perasaan negatif. Langkah kedua, saya menyajikan fakta untuk menunjukkan adanya pelanggaran, misalnya saya mengatakan:  “So, you did not finish your homework, right?”.  Langkah ketiga, saya mencoba memperoleh pengakuan siswa bahwa dia telah melakukan pelanggaran.  Saya hanya perlu menstimulasi siswa untuk meng-iya-kan pernyataan saya. Didalam kejadian diatas saya menggunakan ungkapan:  ”… tapi bagaimanapun kelalaian ini tetaplah sebuah pelanggaran, setuju?”. Ketika persetujuan telah diperoleh maka langkah keempat  adalah mengarahkan pikiran dan perasaan  siswa untuk berempati: “Menurut kamu apa yang uncle rasakan ketika …?”. Ketika siswa mampu berempati , dia akan mampu memikirkan cara mempertanggungjawabkan perbuatannya. Maka sebagai langkah terakhir saya mengundang siswa untuk memberikan solusi: “Jadi apa yang harus kamu lakukan untuk memperbaiki kesalahan ini?”. Skenario lima langkah tersebut memungkinkan saya mengendalikan situasi kearah interaksi yang positif meski dalam kondisi marah.

Merasa marah terhadap penyimpangan sikap siswa merupakan hal yang wajar dialami oleh setiap guru. Namun menjadi tak wajar ketika kekecewaan ini kemudian terekspresikan dengan menyakiti siswa secara fisik dan mental. Hukuman yang merendahkan dan umpatan tidak akan menyelesaikan masalah bahkan hanya akan menyisakan luka di hati  yang berujung pada penolakan emosional. Penolakan semacam ini  akan menghambat keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Lebih buruk  lagi, amarah tak terkendali pada satu siswa memicu meningkatnya ketegangan seluruh siswa. Tambah pula, amarah yang tak terkendali menyebabkan menyempitnya pembuluh darah di otak dan arteri jantung. Pantas saja, seorang pemarah sangat dekat dengan stroke dan serangan jantung.

“Good afternoon, Uncle!” suara Galih menghentikan tarian jemari saya diatas keyboard.Saya sedang menuliskan refleksi  ketika tiba-tiba kepala Galih muncul dari balik pintu laboratorium bahasa.  “Tugas yang kemarin, Uncle” Galih tersenyum sambil menunjukkan tumpukan kertas tugasnya. Saya tersenyum melihat wajah lucunya. “Just come in!” tangan saya memberi isyarat pada Galih untuk masuk. “Maaf ya, Uncle” sekali lagi Galih meminta maaf. “Duh, maafin nggak ya?” saya menjawabnya bercanda yang disambut tawanya.  Masing-masing kamipun sudah mengikhlaskan amarah pergi.

(Widie Dewantara – Laboratorium  Bahasa SMP 10 Yogyakarta – Ketika Adzan Dhuhur Berkumandang)

Advertisements
Comments
  1. april DM says:

    hahaha… that’s a good reflection, Win. I admit that I was often angry to my student when I taught in SMK. Sometimes students in SMK really test our patience. But, after moving to SD, I’ve learnt alot how to control my anger. Secara… they’re just a kid! Now, I move again to SMK because English in ELEMENTARY SCHOOL is no longer exist. So, your reflection is very helpful to remind me how to control my anger. Thanks brother… Let’s keep doing a good thing for education! I believe teacher has great infuence to change mind, behaviour, ang lifestyle.of our student in the future… So, this profession is really serious! 🙂

  2. Wawan pilex says:

    Gud job mr erwin..tambah ilmu dan wawasan neh..keep sharing ya bro..can’t wait 4 the next post..

  3. Wawan pilex says:

    Request brada..can u upload samples of Rpp and its teaching learning material for junior high school, even just one sample, it will be appreciable..thanks in advance..

  4. aminoview says:

    Strateginya mirip hipnotic writingnya Joe Vitale digabung ma dasar2 Ericsonian hipnosis.. hehe.. great job mas bro..

  5. geosaga says:

    Your writing is full of teaching especially for me. Showing anger,a small part of our life as teacher that we often go through without thinking the psychological impacts of blamed students. You suggest a good solution. And the solution itself is emotional-attracting self experience and easy-to-follow storylìne.

  6. Widie Dewantara says:

    hoho…you know it…

  7. Widie Dewantara says:

    Thank you…
    My students teach me many things about teaching them…I feel lucky…

  8. Widie Dewantara says:

    Ok pak wawan, I’ll post it soon…

  9. Widie Dewantara says:

    Thank you for the support, pak wawan…

  10. Widie Dewantara says:

    Glad to know that…

    Absolutely agree bu April…
    Mari tunaikan janji kemerdekaan…

  11. Ratri Elza Gunadi says:

    great anger management

  12. Widie Dewantara says:

    … need more practice…

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s