REFLEKSI – Mengapa Saya Memanggil Mereka Champs

Posted: August 29, 2012 in Teaching Reflection
Tags: , ,

“Hello, champs!” sapa saya membuka kelas.
“Hello, uncle!” siswa kelas tujuh itu membalas sapa.
“How are you doing?” tanya saya keras.
“Incredible!” teriakan siswa menggema ke seluruh ruang kelas.

Ritual ini selalu membuka pertemuan-pertemuan saya dengan siswa. Champs (juara),  begitu saya memanggil para siswa, menyiratkan doa yang saya panjatkan tiap kali bersemuka dengan mereka. Menjadi juara merupakan sikap yang sedang saya bangun melalui interaksi belajar kami. Bahwa bukanlah mereka yang mengalahkan orang lain, melainkan diri yang mampu menundukkan keburukannya sendirilah yang layak disebut juara.

Memanggil para siswa dengan Champs tentunya bukan hanya sekedar pemanis bibir belaka. Sebutan itu bermuara dari keyakinan bahwa ketika Tuhan mengirimkan para khalifah kecil itu ke muka bumi, telah DIA bekali mereka dengan potensi untuk menjadi seorang juara. Juara bernyanyi, juara membatik, juara  lari, juara musik, juara matematika, juara pidato atau juara apapun yang dengannya siswa dapat meningkatkan nilai kebermanfaatan dirinya.

Menyebut mereka sebagai Champs merupakan langkah awal penyadaran bahwa terdapat semangat juara yang perlu dibangunkan di dalam diri mereka. Pun para siswa lalu mengerti bahwa panggilan ini merupakan ekspresi penghormatan dan kecintaan saya selaku guru atas potensi apapun yang mereka miliki. Pengertian tersebutlah yang lalu menumbuhkan sikap hormat dan kecintaan siswa pada guru. Sikap saling menghormati dan mencintai inilah yang kemudian menjadi pondasi kuat untuk membangun interaksi yang saling memuliakan: pembelajaran.

Tak jarang dijumpai, guru yang masih melabeli siswanya dengan panggilan yang bermuatan negatif seperti “si autis”, “si lemot”, “si cerewet”, “si pembuat onar”. Julukan semacam ini tidak akan meninggalkan apapun selain luka di hati siswa. Saya sendiri pernah merasakan “sakit hati” yang sama belasan tahun yang lalu. Bukannya memanggil nama,  karena kulit saya yang lebih gelap daripada teman-teman lain, saya selalu dipanggil “si hitam” oleh seorang guru Matematika. Tak pelak lagi, saya kehilangan rasa hormat terhadap sang guru bahkan tak lagi berminat tertawa di setiap leluconnya. Mental blocking, julukan itu seolah tumpukan batu yang membentuk dinding tinggi antara saya dan pelajarannya.  Disadari maupun tidak, memberikan julukan yang buruk akan berkontribusi pada memburuknya kualitas interaksi guru dan siswa.

Predikat buruk yang disandangkan kepada siswa akan terekspresikan pula oleh guru dalam sikap negatifnya: rendahnya antusiasme mengajar, sirnanya kepedulian, pendeknya rentang kesabaran, lunturnya idealisme atau bahkan matinya kreativitas mengajar. Alih-alih menyebabkan kualitas diri dan lingkungan belajar menurun, alangkah indahnya jika guru tetap berteguh hati untuk memfokuskan perhatiannya pada nilai “lebih” yang siswa miliki. Jangan-jangan sebenarnya “si autis” bernilai lebih pada ketrampilan teknisnya, “si lemot” bernilai lebih pada kemampuannya menggambar, “si cerewet” bernilai lebih pada kepiawaiannya berpidato atau “si pembuat onar” bernilai lebih pada prestasi olah raganya. Menemukan nilai “lebih” dan mengantarkan siswa hingga titik optimalnya merupakan bagian dari tugas luhur  untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang diemban oleh guru.

“Champs!” saya menyebut mereka penuh keyakinan.
“Yes!?” mereka merespon dengan antusias.
Semoga keyakinan dan antusiasme ini yang kelak akan mengantarkan kami menjadi guru dan siswa juara.

(Widie Dewantara – Kamar Tidur – Dini Hari)

Advertisements
Comments
  1. Dhimas Mauldy says:

    akh gw cobain akh…

  2. Widie Dewantara says:

    Gw tunggu critanya ye bro…

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s