REFLEKSI – MOS: Sebuah Proses Pembelajaran

Posted: September 1, 2012 in Teaching Reflection
Tags: , ,

Hari ini, tujuh minggu setelah pelaksanaan Masa Orientasi Siswa Baru. Siswa-siswa kelas tujuh itu mulai terbiasa dengan ritme pembelajaran di sekolah kami. Mereka beradaptasi dengan kultur belajar yang sama sekali berbeda dengan yang pernah mereka rasakan kala duduk di sekolah dasar dua bulan sebelumnya. Sebagai pendatang baru, anak-anak ini menunjukkan keramahannya dengan menyapa saya tiap kali kami bertemu mata di koridor. Telpon genggam sayapun acapkali berbunyi mengantarkan sapaan mereka di kotak pesan. Wajah-wajah baru ini juga seringkali menjumpai saya di perpustakaan atau laboratorium hanya untuk sekedar bertanya tentang tugas dan pelajaran. Tak jarang pula mereka memuaskan ketidaktahuan melalui diskusi dengan kakak kelasnya. Sikap semacam ini hanya tumbuh dari perasaan aman dan nyaman. Perasaan itulah yang sengaja ditanamkan sejak tujuh minggu yang lalu saat pertama kali mereka mengikuti Masa Orientasi Siswa Baru.

Kegiatan orientasi merupakan bagian awal dari proses pendidikan yang akan berlangsung selama tiga tahun berikutnya. Nilai-nilai pendidikan menjadi muatan penting dalam kegiatan ini. Maka bukan siswa senior, melainkan guru selaku pendidiklah yang bertanggung jawab penuh dalam merancang dan menyelenggarakan program orientasi ini. Maka bukan ajang pembodohan, melainkan bimbingan yang diberikan oleh guru dan siswa senior untuk mengenalkan kultur sekolahnya. Maka bukan ceramah dan tugas yang dekontekstual, melainkan kegiatan untuk mengasah ketrampilan belajar di sekolah. Dan tujuh minggu yang lalu, saya tertantang untuk mengelola kegiatan orientasi yang bebas dari tekanan fisik dan emosional di sekolah. Sebuah kegiatan orientasi yang tidak hanya bermakna bagi siswa baru namun juga bermanfaat bagi siswa senior.

Seperti namanya, program tersebut dirancang untuk menjembatani gap budaya belajar siswa baru di sekolah dasar dengan sekolah kami sebagai sekolah lanjutannya. Untuk kebutuhan tersebut, kegiatan-kegiatan yang dikembangkan dalam program orientasi harus mengenalkan siswa baru dengan seluruh warga sekolah, berbagai prosedur dan tata tertib yang berlaku, serta kebiasaan-kebiasaan belajar baru. Dalam kelompok-kelompok kecil siswa-siswa baru itu dipandu untuk mengajukan dan menghargai pendapat, dibiasakan untuk bekerjasama, diajarkan untuk melakukan wawancara bahkan dilatihkan untuk menyapa, berdisiplin waktu dan berpakaian rapi. Tugas merekapun tak jauh dari mengeksplorasi pengetahuan umum atau memproduksi sebuah karya. Tentunya, tanpa harus mendandani siswa baru itu dengan aksesoris yang miskin nilai kemanusiaan. Tanpa pita warna-warni, tanpa tas karung, tanpa papan julukan, tanpa topi kardus. Cukuplah dengan seragam sekolah dasar mereka dan sebuah “name tag” yang saya ketikan rapi. Tanpa melakukan perploncoan, kegiatan orientasi siswa menjadi seremoni penyambutan anggota keluarga baru dengan cara yang hormat.

Siswa senior sengaja dilibatkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang hangat bukan untuk membentak atau marah yang dibuat-buat. Bermula dari masa orientasi, siswa senior berperan sebagai kakak yang bertanggung jawab penuh dengan berbagai hal yang dialami adiknya. Sejumlah siswa senior menjadi kakak asuh untuk siswa baru dan terus berlanjut hingga tahun mendatang. Para kakak asuh ini juga masih harus dipandu untuk melayani dan mengarahkan adik-adiknya. Dan kewajiban saya selaku guru memberikan bimbingan atas para kakak asuh ini. Maka pola pikir sebagai kakak asuh sudah terlebih dahulu saya tanamkan kepada siswa senior beberapa saat sebelum pelaksanaan kegiatan orientasi. Kami bersepakat bahwa untuk dihormati para siswa senior ini tidak perlu memamerkan arogansinya. Sebaliknya, kami meyakini bahwa justru kerendahan hatilah yang mampu mengundang rasa hormat. Interaksi kakak dan adik asuh ini juga merupakan proses pembelajaran bagi siswa senior dalam rangka pendewasaan diri, Didalamnya, mereka berlatih untuk berendah hati serta meneladankan kebaikan. Hingga refleksi ini saya tulis, para kakak asuh ini tetap rela membimbing adik-adiknya dengan ketulusan hati. Mereka membuat saya terharu.

Sementara di saat yang bersamaan, saya menyaksikan berbagai sekolah lain meyelenggarakan kegiatan orientasi bak ajang balas dendam oleh siswa senior. Berbagai ritual yang sepi makna, tugas-tugas yang rendah manfaat, kegiatan yang miskin keutamaan hidup masih menghiasi masa orientasi di berbagai institusi pendidikan lain. Betapa banyak nilai-nilai kemanusiaan yang terinjak-injak didalam kegiatan orientasi karena guru abai dalam proses pembelajaran tersebut. Maka peran aktif guru dalam kegiatan orientasi menjadi penting.

Akhirnya saya belajar bahwa sekolah harus menjadi taman yang nyaman bagi bunga-bunga bangsa untuk tumbuh dan berkembang. Layaknya bunga yang membutuhkan matahari, siswa-siswa kitapun perlu terus disinari dengan kehangatan kasih sayang sang guru. Agar bersemi, merekapun perlu dipupuk dengan nilai-nilai kemanusiaan hingga kelak menebar wangi ke seluruh pelosok negeri … Dan, masa orientasi siswa baru merupakan langkah awal penyemaian bibit bunga bangsa.

(Widie Dewantara – Tengah Malam – Kamar Tidur)

Advertisements
Comments
  1. Wawan pilex says:

    Bagus tu Win..SMP ku gak ada kgiatan khusus..sekolah q SD dan Smp Satu bangunan..jadi Siswa Smp ya brasal dari SD kami jg

  2. Widie Dewantara says:

    wahhh…mendengar ceritamu…jadi terbayang…pasti tantangan mengajarnya lebih seru tuh…

  3. Nini says:

    Wow…super sekali… MOS yang santun dan bermatabat, smg bisa menjadi contoh bagi yang lainnya…

  4. Widie Dewantara says:

    Eh uni mampir….
    Meski masih jauh dari sempurna…semoga ikhtiar ini menginspirasikan kebaikan dalam kehidupan siswa…

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s