REFLEKSI – Peer Teaching: Menciptakan Interaksi Belajar Yang Saling Membangun

Posted: September 5, 2012 in Teaching Reflection
Tags: , ,

Jam menunjukkan pukul 9.20 ketika saya melangkah masuk ke kelas itu. 35 pasang mata memandang saya sembari memasang name tag, menyiapkan kamus serta file keepernya. Seperti kelas-kelas sebelumnya, setelah berdoa dan membuka kelas,  saya mengundang seorang siswa ke depan untuk mereview pengetahuan dan ketrampilan yang kami pelajari di pertemuan sebelumnya. Layaknya seorang guru, kapur ditangannya lincah menari di papan tulis menggambarkan sebuah skema. Siswa tersebut sedang menjelaskan kapan sebuah kata kerja bantu digunakan di dalam kalimat bahasa Inggris. Tak lupa, ia juga melakukan beberapa hal yang biasanya saya lakukan kala mengajar: meminta siswa lain mengulangi ucapannya atau mengajukan pertanyaan kepada teman-temannya. Sementara, siswa lain duduk, khidmat menyimak sembari menghubungkan penjelasan tersebut dengan apa yang sudah mereka ketahui.

Kami menamai sesi ini sebagai “Peer Teaching Session”. Hampir setiap pertemuan, sebelum saya mengenalkan materi baru, siswa secara bergantian berdiri didepan kelas menjelaskan apa yang mereka pelajari dipertemuan sebelumnya, menjadi “guru sebaya”. Agar siswa mampu menjelaskan, memberikan contoh dan mempraktikan suatu konsep dihadapan teman-temannya, saya terlebih dahulu mengajari siswa untuk memaknainya secara mandiri. “Self Learning Session” begitu kami menyebut kegiatan pembelajaran mandiri itu.

Pada sesi diskusi, sejumlah pertanyaan pun terlontar begitu saja mewakili keingintahuan mereka. Hari itu, ada yang bertanya tentang penggunaan “was” dan “were”. Ada yang menanyakan  tentang perbedaan “Do you … ” dan “Are you…”, ada yang meminta penjelasan tentang “cut” dan “cutting”. Ada yang ingin tahu lebih banyak lagi tentang “adjective”. Ada yang memenuntut diberikan contoh kalimat yang tidak menggunakan “to be”. Pertanyaan-pertanyaan lugu mereka seringkali membuat saya tersadar bahwa ada banyak hal penting yang luput saya ajarkan dipertemuan sebelumnya. Saya membiarkan si guru cilik ini menjawab sekenanya, atau menyerahkan jawabannya kepada siswa lain.  Tangan-tangan kecil mereka terangkat ke udara meminta izin untuk menyampaikan jawabannya. Di kelas, kami sepakat untuk mentolerir jawaban apapun tanpa harus khawatir dipersalahkan. Dengan demikian siswa termotivasi untuk berbagi pengetahuannya dan terlatih untuk berpikir secara kritis dan kreatif. Didalam  kegiatan ini, saya menggantungkan sebuah harapan, para siswa  dapat menciptakan hubungan yang saling membangun.

Tentu saja, ketika menjelaskan, terkadang siswa masih melakukan kesalahan, namun justru hal tersebut menjadi alat ukur bagi saya tentang kualitas pengajaran yang saya berikan di pertemuan sebelumnya. Dengan mengetahui kesalahan yang dilakukan siswa, saya menjadi sadar kekurangan apa yang saya miliki ketika mengajarkannya dan dengan demikian  saya menjadi paham langkah apa yang harus saya lakukan berikutnya. Ketika tak seorang siswapun dapat memberikan jawaban atas suatu pertanyaan, saya dapat mempertimbangkan untuk memberikan penjelasan deduktif ataupun induktif. Untuk mengevaluasi pemahaman siswa, lagi-lagi saya akan meminta siswa untuk memberikan contoh ataupun mempraktekannya dan tentu saja dengan selalu mempertimbangkan kualitas kebermaknaan.

“Peer Teaching Session” semakin meyakinkan saya bahwa mengajar tidak melulu didominasi dengan penjelasan guru, karena kebenaran pengetahuan bisa saja datang dari siswa. Sumber belajar juga tidak selalu guru, bahkan siswa pun bisa menjadi sumber inspirasi bagi siswa lainnya. Belajarpun tidak cukup hanya dengan menghafal fakta, namun juga siswa perlu mengalami, menjelaskan, dan memaknai kembali pengalaman belajarnya. Explore, experience and express …

“If you understand, please raise your hand!” pinta saya mengakhiri sesi itu. Sekejap kemudian, saya menyaksikan 35 tangan tergantung diudara. Alhamdulillah…

(Widie Dewantara – Kantor Guru – Menjelang Adzan Ashar)

Advertisements
Comments
  1. Wawan pilex says:

    Will it take too much time to do this at every begining of the lesson? But it’s very awesome technique to practice anyway..i’m interested about it

  2. Widie Dewantara says:

    No…it’s about 10 – 15 minutes
    … jadi “warming up”…
    Saya merancang materi pada tiap pertemuan terkait satu dengan lainnya.
    Jadi sesi ini menjadikan siswa siap menghubungkan pengetahuannya dengan informasi baru yang akan mereka pelajari setelah sesi “peer teaching”…
    Agar efektif…siswa perlu dilatih untuk dapt melakukan “pemetaan pikiran”…

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s