KISAH – Terbang Ke Negeri Harapan (Bagian 1)

Posted: September 14, 2012 in Lifestory

SEBUAH AWAL: It’s not a destination, it’s a journey…

“Mbak, gak pengen bunuh dirikan?” suara itu memecah lamunanku.

Aku berpaling ke kanan. Lelaki berusia empat puluhan menatapku cemas. Kemeja biru berlengan pendek dengan motif kotak-kotak  dan celana hitam membalut tubuhnya. Pastilah dia karyawan di perusahaan yang menghuni salah satu pencakar langit  di sekitar jembatan penyeberangan dimana aku berdiri sedari tadi. Sikapnya barusan menggugurkan hipotesisku. Tadinya aku berpikir, hanyalah orang-orang yang peduli pada uang dan jabatan  saja yang berhabitat di hutan beton ini. Ternyata aku salah.

“Nggak kok, pak” aku menjawab sekenanya, mencoba melempar senyum yang dipaksakan agar dia yakin kalau aku baik-baik saja.

Wajar saja lelaki itu mengira aku wanita putus asa yang akan nekat melompat dari atas ketinggian jembatan ini. Sejak 15 menit yang lalu, aku berdiri diatasnya dengan sisa daya yang kupunya, membelakangi orang yang berlalu-lalang. Bahuku bertumpu pada pagar pengaman jembatan. Jari-jariku mengalung jerujinya. Melalui sela-sela jeruji, aku menonton episode hiruk pikuk yang dimainkan oleh para penghuni Jakarta. Tas punggung coklat memelukku erat dari belakang merayuku untuk tetap tegar. Didalamnya, tersimpan dokumen-dokumen pentingku, beberapa potong pakaian dan perlengkapan mandi. Hanya itu yang aku bawa dari Yogyakarta dua hari yang lalu. Kemeja dan celana yang aku kenakan sedari pagi kini bau asap knalpot, sudah seharusnya di cuci lagi. Belum mandi. Debu dan asap kendaraan menjadikan tubuhku semakin kumal. Wajahku berminyak diterpa angin senja yang berpolusi, mengisahkan lelah yang kurasa. Ini, yang mungkin saja, diterjemahkan sebagai keputus asaan oleh lelaki itu.

“Saya mau pulang  ke Yogya tapi bingung mau naik apa”, aku menjelaskan. “Ke terminal saja dulu mbak”, lelaki itu menunjuk barisan angkot yang sedang menanti para karyawan pulang. Lelaki itu berlalu setelah aku mengucapkan terima kasih. Aku masih berdiri menatap langit Jakarta yang mulai gelap dari atas jembatan penyeberangan yang mengangkangi jalan TB Simatupang. Gedung-gedung tumbuh dari diatas permukaan tanah memagari jalan besar itu. Semua orang berlalu di atas jembatan dengan tergesa-gesa seolah dalam keadaan gawat darurat. Otaknya pasti tak berhenti melepaskan noradrenalin dalam jumlah besar, pikirku.  Sementara dibawah sana, iringan kendaraan merayap malas, mengular beberapa kilometer, menyita waktu pengendaranya.  Nyanyian sumbang  klakson yang saling bersautan menyambut datangnya malam di Cilandak.

Kebingunganku tentu saja beralasan. Pertama, uang yang tersisa ditanganku hanya cukup untuk membeli tiket kereta ekonomi yang berangkat tadi sore. Sebenarnya masih ada satu kereta lagi yang berangkat pukul sepuluh malam nanti. Namun, itu kereta kelas eksekutif.  Uangku tak cukup untuk membeli  tiketnya kecuali aku bersedia dilempar dari atas kereta oleh petugasnya. Kedua, meski usiaku 26 tahun, ini adalah kunjungan pertamaku ke Jakarta. Sebelumnya, aku hanya menjelajahi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Maka aku buta rute mana yang harus aku tempuh. Satu-satunya rute yang aku kenal hanyalah ke stasiun kereta. Itupun juga atas petunjuk seorang rekan mengajarku sebelum aku meninggalkan Yogyakarta. Dan ketiga, aku tak mengenal satupun diantara seratus sembilan puluhan ribu penghuni kota ini. Aku sendiri.

“Kirei, congrats ya“ teriak wisudawati lain.
Ingatanku melayang ke seremoni kelulusanku beberapa bulan lalu.
“Kamu juga ya!”  jawabku ringan.
“Selamat ya ndhuk” ujar ibu yang ikut menghadiri acara wisudaku.
Ibu memelukku erat. Lidahku kelu menahan tangis haru, aku hanya menjawabnya dengan air mata. Ayah tersenyum menyaksikan kami berpelukan. Meski tak bicara banyak, senyumnya menyampaikan kebahagiaan yang serupa. Menyenangkan bisa menghadiahi mereka kelulusan ini. Sebenarnya mereka sudah menanti kado ini  selama 8 tahun!

Ya, 8 tahun. Aku menempuh kuliah di jurusan pendidikan bahasa Inggris selama  itu. Aku tak peduli orang-orang mengira aku bodoh karena hampir drop out. Asal mereka tahu,  aku pernah memperoleh beasiswa dari  sebuah maskapai penerbangan di Tokyo untuk berkuliah di jurusan  teknologi di  Jepang  saat lulus SMA. Hanya saja, ayah tak merestui keberangkatanku.  Andai saja saat itu ayah membiarkanku kuliah di sana, tentu saat ini aku sudah menjadi seorang metallurgy engineer. Ah, tak apalah, aku pun tak pernah menyesal menuruti keinginan ayah lalu meninggalkan Surabaya untuk kuliah di Yogyakarta. Bagiku, patuh pada ayah merupakan bagian dari baktiku kepadanya. Aku sangat menyayanginya juga ibu.

Meski, impianku untuk mendalami teknologi di Jepang pupus, tapi obsesiku padanya tak pernah mati. Selama kuliah di Yogyakarta, setiap kali teman-teman kosku sibuk menghabiskan waktu dengan kekasihnya, akupun sibuk berkencan dengan artikel dan jurnal fisika dan antariksa. Tentu, lebih mudah bagiku mendeskripsikan komponen-komponen pesawat ulang alik yang akan diluncurkan daripada sekedar memahami onset constraint dan phonotactics  dalam buku pegangan kuliah Phonology ku . Aku selalu berangan untuk terbang mengarungi bima sakti – sekedar  menikmati sensasi anti gravitasi di bulan, meneliti kandungan air di mars yang merah atau bahkan menyaksikan matahari tenggelam di ufuk timur venus yang rotasinya lamban dan berlawanan arah!

Mbok kamu di sini saja”, begitu pinta ayah terakhir kali aku mengunjunginya di Surabaya.
Setelah kelulusanku, aku tetap tinggal di Yogyakarta.  Memberdayakan diri  menjadi part time teacher. Tentu gajinya tak seberapa, tapi aku mencintai pekerjaan ini.
“Buat apa kerja jauh-jauh, toh di sini kamu juga bisa ngajar. Ada penerimaan pegawai negeri sebentar lagi. Kesempatan di sini lebih besar”, ayah mulai menyampaikan logikanya.

Aku bosan berdebat tentang ini. Aku hanya merespon dengan senyum untuk menyampaikan keenggananku. Mungkin bukan keputusan yang populer di mata ayah, ketika sarjana lain berebutan memenuhi kuota CPNS, aku memilih menjajakan ketrampilan berbahasa Inggris dan mengajarku pada institusi swasta. Pasca wisuda, aku habiskan siangku dengan mengajar dan melewati malamku dengan berburu lowongan pekerjaan di situs jobdsb ataupun jobstreet. Aku ingin menjadi dosen, trainer, editor, interpreter, language specialist atau apapun namun tidak di institusi pemerintah. Hampir lima puluh application letter dan CV yang aku kirimkan. Aku hanya berharap, suatu hari nanti bisa bekerja di tempat yang  lebih menantang dengan gaji yang jauh lebih besar. Namun, tetap saja ayah bersikukuh dengan pendapatnya, maka sebenarnya ia pun tak setuju jika hari ini aku  memenuhi undangan tes kerja dari sebuah mega company yang mendiami gedung Ratu Prabu, Cilandak.

Gedung Ratu Prabu tampak angkuh dari jembatan ini. Kala pagi, cahaya biru langit terpantul dari tiap kaca yang menutupi tubuhnya. Tubuh kekarnya berdiri tegak 15 lantai menjulang di atas lahan 20.000 meter persegi.  Membuat gedung lain yang mengelilinginya berkecil hati. Pagi tadi, matahari tersenyum mengantarkan  langkahku memasuki gedung yang tampak tak ramah ini. Aku menyebutnya tak ramah karena banyak lelaki berpotongan tentara dengan seragam safarinya dimana-mana.  Tanpa senyum, menatapku penuh selidik. Mengingatkanku pada cyborg dalam film terminator. Beberapa kali, mereka  memeriksa tas coklatku di security check point. Oh, pantas saja tak ada nyamuk di dalam gedung ini, nyamuk pun sudah sungkan masuk kala membaca tulisan restricted area dimana-mana. Bahkan untuk sampai ke lobby utama di lantai tiga, aku harus dikawal oleh empat security guard. Hanya gara-gara aku salah mengoperasikan lift canggihnya.  Dasar orang udik. Di lantai tiga ini, aku berturut-turut menjalani tes  micro teaching,  psychometric, IELTS, komputer, forum discussion group hingga behavioural interview.  Saat aku meninggalkan keangkuhan Ratu Prabu, tak lagi kulihat sinar matahari.

Kini, aku seorang diri di atas jembatan penyeberangan. Lelah. Ketinggalan kereta.

Aku mengambil dompet dari tas punggung coklatku, memastikan uang seratus ribuku masih utuh. Padahal  dua hari yang lalu, ada tujuh ratus lima puluh ribu disana yang aku peroleh dengan susah payah. Bahkan, tadinya aku hanya memiliki setengah jumlahnya. Sisa hasil mengajarku bulan ini.

“Ada apa Rei?” suara Kayla menyambutku ketika aku mengetuk kamarnya.
“Aku mau pinjem duit” jawabku tanpa basa basi seperti orang Surabaya kebanyakan.

Sahabatku Kayla tak banyak bertanya lagi seakan memahami kesulitanku. Ia membuka dompetnya, memberikanku selembar uang dua puluh ribu dan selembar uang lima ribu. Hanya itu yang Kayla punya untukku di akhir bulan seperti ini. Malam itu, aku mengetuk puluhan pintu kamar dan pintu hati teman-temanku, berharap bisa memperoleh uang pinjaman. Aku tak berani mengetuk pintu hati ayah untuk menutupi biayaku selama dua hari di Jakarta.

Bermodalkan tiga ratus dua puluh lima ribu hasil dari meminjam ditambah sisa gajiku, aku berangkat ke stasiun Tugu memesan tiket untuk hari berikutnya. Karena aku masih punya jadwal mengajar hingga malam menjelang, aku terpaksa merelakan dua ratus lima puluh ribuku untuk membeli tiket kereta eksekutif yang berangkat lebih malam. Sepanjang perjalanan, aku pelajari kembali soal-soal psikotes, fisika, dan matematika dasar. Neuronku bekerja keras saling menjulurkan dendrit dan aksonnya. Kebiasaanku membaca memudahkan komunikasi diantara mereka. Malam itu, aku abaikan rasa kantukku, demi sebuah pembuktian.

Kereta eksekutifku tiba di Gambir ketika Shubuh menjelang. Busway mengantarkanku ke daerah Jakarta Selatan. Aku berjalan menyusuri jalan kecil beraspal mencari sebuah penginapan  di sekitar Universitas Nasional, tak seberapa jauh dari Jalan TB Simatupang. Sebenarnya aku sudah menghubungi pemilik penginapan menanyakan lokasinya selagi aku masih di Yogyakarta, tapi tetap saja aku tersesat di gang-gang yang dipenuhi oleh mahasiswa yang sibuk hilir mudik. Di gang itu nantinya aku berlarian dengan panik karena harus mencari persewaan komputer untuk mencetak lesson plan ku ditengah malam. Kakiku terhenti ketika mata menangkap sebuah bangunan bertuliskan Puri Sawo Manila. Di tempat ini aku melewati malam pertamaku di Jakarta.  Sebuah kamar kecil berukuran 4 x 4 dengan satu tempat tidur kayu ukuran queen. Di atas tempat tidur itu hingga malam menjelang,  aku mempersiapkan course grid dan lesson plan yang akan aku gunakan dalam micro teaching. Sebuah rak menggantung di atas salah satu dindingnya, dimana TV 14 inch diletakkan. Pintu menuju kamar mandinya yang kecil terletak di sisi kiri bawah rak TV.  Akupun tak keberatan jika harus membayar tiga ratus ribu untuk sewa kamar itu. Untuk menghemat, saat siang dipenginapan aku hanya membeli sebungkus nasi padang. Aku  makan setengahnya dan menyisihkan sebagian lain untuk makan malamku.

Tidurku hanya empat jam. Setelah shubuh, aku meninggalkan penginapan mendatangi Ratu Prabu. Sepagi itupun, kemacetan sudah menghiasi  jalanan kota Jakarta. Sepertinya kemacetan merupakan kutukan yang akan menimpa kota ini sepanjang hidupnya. Tak ingin aku terlambat, pemilik penginapan yang sudah aku kenal itu meminta staffnya untuk mengantarkanku menghadapi keangkuhan Ratu Prabu dengan kuda besinya yang lincah. Aku berikan selembar uang dua puluh ribu pinjaman Kayla atas jasanya mengantarkanku dan menyisakan lembaran seratus delapan puluh ribu lainnya di dompetku di dalam tas coklat.

Menjelang siang, aku bersama peserta tes lainnya break. Dari tujuh ratusan pelamar, hanya lima belas orang yang dipanggil untuk mengikuti tes. Kelaparan, aku turun ke kafetaria di lantai bawah gedung mewah ini, memesan semangkuk mi dan segelas lemon tea.

“Silahkan mbak” pelayan dengan ramah memberikan tagihannya padaku usai aku santap habis semuanya.

Diatas kertas putih kecil itu  tertera jumlah uang yang harus aku bayar. Hah!? Gila! Delapan puluh ribu hanya untuk semangkuk mi dan segelas lemon tea yang tak beda rasanya dengan yang dijumpai di angkringan Yogya! Tentu saja bukan kesalahan mesin kasir, tempat ini memang disediakan bagi para karyawannya yang bergaji puluhan juta. Sebenarnya tak rela kuserahkan ongkos pulangku  untuk membayar hidangan tadi. Tapi ini konsekuensi atas kebodohanku sendiri. Sebekumnya, aku sudah diingatkan oleh seorang staf building maintenance tentang mahalnya harga makanan di tempat ini. Hanya saja, aku tak mengira akan semahal itu. Pastilah pemilik kafetaria ini seorang lintah darat! Aku mengutuk. Aku semakin merindukan Yogyakarta dan makanan murahnya.

Adzan Isya berkumandang. Kutatap iba seratus ribu ku. Kusimpan kembali di dompet di dalam tas coklatku yang lusuh.  Aku melangkah menuruni jembatan penyeberangan, menjauh dari gedung Ratu Prabu yang telah merampok delapan puluh ribuku hari ini. Tanpa delapan puluh ribuku dan tanpa mengenal Jakarta, bagaimana mungkin aku keluar dari labirin kota ini? Aku, seorang gadis yang sedang  terjebak dirimbunnya belantara beton Jakarta, seorang diri.

Klik disini untuk cerita selanjutnya.

(Widie Dewantara – Perpustakaan – Setelah Shalat Jumat)

Advertisements
Comments
  1. aminovic says:

    what happen to the girl?
    *waiting…..

  2. Widie Dewantara says:

    I’m working on it…

  3. I do agree that life is a journey, not a destination. That’s my motto. In the story above, I can enjoy every moment that the figure faced. Actually, when I read the beginning of the story, I felt a little bit difficult to understand the story, but I started to understand and enjoy the rules of the story starting from paragraph 3.

  4. Widie Dewantara says:

    Glad you enjoy it…thank you for ur visit…

  5. Ratri Elza Gunadi says:

    very inspiring…

  6. Widie Dewantara says:

    Thank you ratri … moga kita bisa terus saling berbagi

  7. I am still waiting for the second part…I can’t be patient to read the next story…

  8. Widie Dewantara says:

    I’m writing it. Thank you for waiting

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s