REFLEKSI – Sesi “Free Time”: 5 Menit untuk Semangat Baru

Posted: September 29, 2012 in Teaching Reflection
Tags: ,

“OK!” teriak siswa keras merespon saya yang mengumumkan “Free Time”.  Lalu mereka berhamburan keluar kelas! Sebagian dari mereka pergi ke kantin lalu kembali ke kelas dengan makanannya. Sebagian lain berlarian ke lapangan bergantian mencoba memasukkan bola ke ring basket. Beberapa siswa duduk di koridor sekedar berbincang dan melepaskan tawa. Sisanya di kelas, membaca novel dan komik yang mereka bawa atau hanya sekedar meletakkan kepalanya di atas meja untuk mengusir lelah.  Bahkan ada yang melakukan peregangan menghilangkan penat setelah duduk sedari pagi. Lima menit kemudian, mereka semua bergegas kembali duduk di kursinya masing-masing dengan semangat belajar yang terbarukan, siap terlibat dalam tantangan akademik berikutnya.

Kita semua memahami, siswa-siswa dengan kisaran usia 12 – 15 tahun ini umumnya memiliki rentang perhatian yang pendek dan kondisi emosi yang sangat tak menentu. Belum lagi beratnya muatan akademis dan ketegangan yang harus mereka hadapi sepanjang hari di sekolah pastilah menambah tekanan mental yang kemudian terekspresikan dengan prilaku belajar yang menyimpang  dan prestasi akademik yang rendah. Selain itu, kita mengetahui bahwa kapasitas visual yang diterjemahkan oleh saraf optik mencapai puluhan juta bit tiap detiknya. Jumlah ini terlalu banyak untuk diproses secara sadar dan terus menerus.  Maka seringkali didapati mereka mudah merasa jemu dan teralihkan fokusnya saat mendengarkan penjelasan guru. Terlebih lagi, jika guru gagal merancang kegiatan pembelajaran yang variatif dan menantang.  Kondisi pembelajaran yang tidak optimal ini akan menyebabkan otak menjadi semakin kelelahan bahkan hingga tingkat depresi. Maka memaksa para pembelajar muda ini untuk tetap atentif ditengah berbagai tekanan yang dialaminya adalah kontra-produktif.

Untuk mengatasi hal tersebut, di dalam praktik pengajaran bahasa Inggris yang saya lakukan, saya memberikan jeda waktu yang dapat digunakan siswa untuk melakukan berbagai hal yang mereka inginkan selama lima menit. “Free Time” kami menamainya. Meski tak lama, kegiatan selingan yang dilakukan selama waktu tersebut cukup untuk memuaskan kebutuhan otak, fisik serta emosional pembelajar untuk “beristirahat” sejenak sebelum kemudian melanjutkan eksplorasi pengetahuannya.  Sesi ini memungkinkan siswa untuk mencapai rileks dan menciptakan kesenangan menurut caranya masing-masing. Dalam kondisi semacam ini, siswa akan lebih mampu memberdayakan kemampuan berfikirnya dan melakukan berbagai pemecahan masalah. Inilah mengapa sesi ini penting untuk kesuksesan kegiatan pembelajaran berikutnya.

Free Time dapat dirancang secara terstruktur misalnya setelah empat puluh menit melakukan kegiatan pembelajaran. Saya tak perlu mengkhawatirkan sempitnya jam pelajaran dan padatnya materi yang kami miliki. Sepanjang pengamatan saya,jika dilakukan dengan benar,  waktu bebas selama lima menit yang diberikan justru meningkatkan minat belajar, mengakselerasi kemampuan belajar serta mengendalikan sikap belajar  siswa sehingga mudah bagi saya untuk mengatur laju proses mengajar-belajar. Menjadi catatan penting bagi saya agar sesi ini memiliki dampak yang positif, saya selalu mengawalinya dengan memberikan sugesti kepada mereka untuk menggunakan waktu tersebut secara optimal dan bertanggung jawab dan kembali ke kelas dengan kegembiraan. Maka setelah lima menit, mereka kembali ke kelas dengan antusias.

Berisitrahat, menenangkan diri dan menyenangkan hati secara alami merupakan bagian dari proses pembelajaran.  Pun kita melakukan hal serupa kala berproses dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali kita melakukan hal-hal lain untuk mengistirahatkan pikiran dan fisik setiap kali merasa lelah dengan materi yang kita pelajari atau masalah yang harus kita selesaikan. Saya hanya mengadaptasikan prilaku serupa di dalam ruang kelas dengan harapan agar kebiasaan dan kesadaran yang mereka pelajari di ruang kelas ini dapat meningkatkan ketrampilan belajar mereka  di luar kelas.

Tempo hari, setelah sesi “Free Time” seorang siswa menghampiri saya dengan canda khas remaja  “Uncle, bagaimana kalau semua pelajaran hari ini kita ganti Bahasa Inggris aja?”. Binar matanya memancarkan semangat belajarnya.

(Widie Dewantara – Perpustakaan SMP 10 Yogyakarta – Ketika Adzan Ashar berkumandang)

Advertisements
Comments
  1. wow…I’ve got a good idea from you…thank’s uncle…

  2. Widie Dewantara says:

    Glad to know that

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s