OPINI – Menyentil Pengajaran Berbasis LKS dan SKL.

Posted: October 10, 2012 in Opinion
Tags: , ,

Sudah enam tahun Standar Isi menjiwai muatan materi pengajaran di sekolah-sekolah di tanah air semenjak dikukuhkan melalui Permendiknas no 22 tahun 2006. Penyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 ini diharapkan menjadi panduan institusi pendidikan formal tingkat dasar dan menengah dalam memenuhi kebutuhan belajar peserta didiknya. Tentunya para perancang dan pengembangnya pun sudah melakukan analisa kebutuhan dan kajian yang mendalam ketika menyusun penyempurnaan ini. Sebuah upaya yang layak diapresiasi mengingat luasnya wilayah dan banyak serta beragamnya penduduk di negeri ini. Kiranya, atas alasan keluasan dan keberagaman inipulalah maka tiap-tiap satuan pendidikan dilimpahi “wewenang istimewa” untuk proaktif menyusun kurikulum yang diadaptasikan dari Standar Isi dengan karakter peserta didik sebagai acuannya. Produk kurikulum berbasis sekolah ini lebih populer dengan sebutan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Namun justru keleluasaan untuk berkreasi disambut dengan kebingungan oleh para pendidik, khususnya oleh para guru bahasa Inggris.

Dalam implementasi KTSP, guru memiliki peran yang lebih besar dalam mengembangkan bahan ajar. Rupanya, semakin besar kebebasan yang guru miliki, semakin sering terdengar guru yang mengeluhkan betapa sulitnya menerjemahkan Standar Isi mata pelajaran Bahasa Inggris kedalam penyusunan silabus, pengembangan materi ajar, perencanaan pembelajaran serta pelaksanaan pengajaran dan evaluasinya. Dan sudah tentu, semua kesulitan ini berhilir dari inkompetensi guru dalam mencermati secara menyeluruh Standar Isi, ragam karakter siswa, perkembangan psikologi pembelajaran serta kekinian metode dan strategi pengajaran. Dan, jika selama sembilan tahun ini kita masih mengeluhkan hal yang sama, ini bisa menjadi penanda bahwa apa yang kita, para guru, lakukan belumlah berkontribusi apapun pada peningkatan kompetensi dan ketrampilan diri apalagi siswa. Bisa jadi karena pelatihan dan diskusi yang dihadiri hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban dan memperoleh legalisasi formal belaka. Mungkin juga, keengganan menyisihkan waktu untuk meng update kompetensi dan performa mengajar dengan membaca dan mempraktikan literatur – literatur terbaru. Atau mungkin ketidakpekaan diri untuk menjawab tantangan zaman dengan melakukan terobosan-terobosan pengajaran yang kreatif dan inovatif. Padahal, guru merupakan profesi yang bersinggungan langsung dengan kedinamisan zaman. Membiarkan diri tertinggal oleh kecepatan perkembangan pengetahuan, bagi seorang guru, sama artinya dengan membesarkan anak-anak bangsa dengan makanan kadaluarsa.

Pada kenyataannya, kesulitan dalam mengembangkan materi ajar kemudian diatasi oleh guru dengan mengkultuskan LKS (Lembar Kerja Siswa – biasanya berbentuk rangkuman materi dan paket soal) dari penerbit tertentu sebagai pegangan wajib siswa. Entah mendapat wangsit dari mana, kegiatan mengerjakan latihan soal pada LKS menjadi ritual sakral di dalam kelas. Bak teks suci, lembar demi lembar LKS dibuka dengan khidmat tanpa berani mempermasalahkan kesesuaian isinya. Kalau sudah demikian daftar isi menjadi silabus dan latihan soalpun menjadi lesson plan. Ketrampilan-ketrampilan berbahasapun akhirnya bergeser menjadi pelajaran teori kebahasaan. Siswa diminta mengingat ragam dan struktur teks namun tidak terampil menuliskannya untuk mengungkapkan makna yang kontekstual. Siswa diajarkan menjawab soal bacaan tanpa pernah belajar strategi membaca cepat dan akurat demi memenuhi kebutuhan informasi di era digital. Siswa diwajibkan menghafal kosakata dan ekspresi tanpa pernah menggunakannya selain demi kepentingan pengerjaan soal. Dan semakin terasa janggal ketika kemampuan memahami soal tulis berbentuk dialog dianggap sebagai indikator ketrampilan oral. Dengan mendewa-dewakan LKS, ketrampilan berbahasa yang nyatapun kemudian menjelma menjadi pengetahuan abstrak bak ilmu kanuragan. Padahal LKS hanya di rancang untuk penguatan informasi bukan sebagai kitab sakti.

Lebih buruk lagi, belakangan ini Standar Kompetensi seolah tereduksi menjadi SKL (Standar Komptensi Lulusan). Guru bahasa Inggris lebih mengkhawatirkan siswanya mendapatkan nilai buruk dalam Ujian Nasional dari pada tidak terampil berbahasa. Padahal kita semua meyakini keterampilan berbahasa akan berkontribusi secara signifikan dan positif pada pemenuhan SKL. Anggapan dan reaksi keliru guru dalam menyikapi SKL justru mengundang sikap belajar yang menyimpang. Ketika SKL menjadi materi ajar dan nilai Ujian Nasional menjadi patokan keberhasilan, siswa-siswa kita tidak akan lagi melihat signifikansi pengajaran bahasa Inggris sebagai upaya peningkatan ketrampilan berbahasa melainkan hanya upaya mencapai nilai tes yang tinggi belaka. Kalau hanya nilai tinggi yang dicari, sepertinya bimbingan belajar sudah cukup menjadi solusi. Dan, sekolah tak perlu lagi. Namun bukan sekedar nilai tinggi yang diamanatkan dalam Standar Isi. Jika kita mau mencermati Standar Isi, maka kita mendapati bahwa tujuan pengajaran bahasa Inggris adalah untuk mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi tertentu. Dengan demikian maka keterampilan berkomunikasilah yang menjadi tolok ukur keberhasilan pengajaran Bahasa Inggris dan Ujian Nasional hanyalah merupakan bagian kecil dan mudah di dalamnya. Pencapaian ketrampilan berbahasa merupakan target yang lebih tinggi daripada sekedar perolehan angka. Secara logis, kita juga akan sampai pada kesimpulan bahwa siswa-siswa kita pastilah akan mendapat nilai yang sangat baik jika mereka terampil menggunakan bahasa Inggris namun tidak sebaliknya, mereka yang mendapat nilai yang baik di dalam Ujian Nasional tidak serta merta terampil berbahasa Inggris. Sayangnya, kesimpulan logis ini sering terkalahkan oleh alasan-alasan tak logis sehingga banyak praktik pengajaran yang hanya terhenti pada pencapaian nilai belaka.

Sejauh ini, tujuan pengajaran Bahasa Inggris terbiaskan menjadi menjadi instruksi-instruksi yang berlandaskan LKS dan SKL. Memang bukan hal yang sederhana melatihkan ketrampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis kepada siswa-siswa kita. Terlebih-lebih dalam bahasa asing. Namun sekedar memerintah siswa menjawab pertanyaan berdasarkan dialog pada LKS juga tidak akan menjadikan siswa pandai berkomunikasi. Pun, mengisi jam pelajaran dengan membahas soal yang sesuai SKL sepanjang tahun tidak akan membuat siswa cakap membaca apalagi menulis. Tanpa ingin mengesampingkan peran penting LKS dan SKL, lebih bijak rasanya jika guru menyengajakan diri untuk menyeleksi sejumlah kosa kata, ekspresi, tata bahasa, situasi, topik dan wacana yang sesuai dengan standar kompetensi lalu bersabar hati mengembangkannya sebagai materi atau bahkan menjadi LKS sendiri. Di dalamnya guru dapat merancang sejumlah aktivitas belajar yang berbasis kealamiahan otak untuk membantu siswa dalam mencapai kompetensi dasar (ketrampilan)berbahasa. Tentunya ada banyak hal yang juga harus dipertimbangankan oleh guru dalam menginterpretasikan standar isi, menyusun silabus, merancang lesson plan, mengembangkan materi dan alat evaluasi. Disanalah terdapat ruang bagi guru untuk terus mengembangkan diri guna meningkatkan daya saing global melalui optimalisasi sumber daya lokal. Terlepas dari lubang-lubang di sepanjang upaya pemerintah mengatasi permasalahan pendidikan, antusiasme guru untuk terus memperbaharui diri merupakan penawar atas keluhan praktik pengajaran Bahasa Inggris selama ini.

Semoga ketika kurikulum baru diluncurkan pada tahun mendatang, kita tetap antusias untuk beradaptasi dan berkreasi dengan kebaharuan-kebaharuan yang lain.

(Widie Dewantara – Perpustakaan SMP Negeri 10 Yogyakarta – Sebelum Bel Masuk)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s