KISAH – Terbang ke Negeri Harapan (Bagian 2)

Posted: October 21, 2012 in Lifestory

Klik disini untuk cerita sebelumnya

SEBUAH AKHIR: Every ends is a new beginning…

Debu dan asap beterbangan memenuhi  atmosfir. Tiap partikelnya membiaskan spektrum jingga lampu jalan raya, merefleksikan warna menyala pada langit malam Jakarta. Aku rindu menatap hamparan hitam langit Yogya dari lantai dua kamar yang ku sewa.  Kepadanya, aku betutur  tentang rasa gundah yang menyesakkan dada. Tentang  IPK ku yang pas-pasan, gajiku yang hanya cukup untuk makan, surat lamaran yang tak kunjung ada balasan, ayah yang mendesakku kembali ke kampung halaman, juga kesendirianku yang menjadi bahan gunjingan. Seolah tak kan habis untuk dikisahkan pada seribu satu malam.  Aku bertahan. Rupanya, diantara himpitan kegundahan  masih tersisa ruang kecil untuk sebuah impian. Impian yang kemudian membawa langkahku untuk mendatangi metropolitan meraih secercah harapan.

Aku berdiri di tepi jalan TB Simatupang, menyaksikan bis-bis sibuk berburu penumpang. Suara kenek  beradu garang, mengungguli deru mesin kendaraan yang mengerang.
“Ayo neng,  Lebak Bulus”.
Seorang kenek di pinggir pintu dengan sigap meloncat dari bisnya.  Aku menggeleng. Jauh di seberang jalan, kenek bis yang lebih besar berteriak-teriak mengumumkan destinasinya.
“Rambutan…Rambutan!”.
Beberapa karyawan berlarian, berebut kursi diatas bis yang bertuliskan Kampung Rambutan.
Tak mau kalah, kenek  lain menjanjikan keberangkatan armada yang diawakinya.
“Yang Kalideres langsung, Kalideres langsung!”. Suaranya keras menabuh  tympanic membrane, menyakitkan telinga.
Aku hanya ingin ke terminal lalu kembali ke Yogya. Tidak yang lain. Tidak ke Lebak bulus, Kampung Rambutan, Kalideres atau daerah manapun yang namanya belum pernah tersimpan di hippocampus ku. Aku masih menanti, berharap akan dihampiri kenek yang berteriak “Terminal!”.

Ah, seharusnya kini aku sudah terlelap di gerbong kereta ekonomi kalau saja tes tadi usai ketika ashar tiba. Waktu dhuha baru saja menyapa Jakarta ketika aku menjejakkan kaki diatas granite tiles bertekstur gelap yang menutupi lantai lobi Ratu Prabu. Pilar-pilar besar menyangga langit-langitnya yang tinggi. Beberapa pria jangkung berhidung mancung hilir mudik dibawahnya, berjalan terburu-buru dikejar waktu. Dari balik receptionist desk, seorang wanita ramah menyapaku. Bussiness suit yang dikenakannya membuatku jengah dengan penampilanku sendiri yang seadanya: sekedar kemeja dan celana kain yang cicilanyapun belum lunas. Tas coklatku menggantung dipunggung. Setelah ku tunjukkan visitor card, ia memintaku menunggu. Di sudut lobi, sebuah sofa besar  memeluk tubuh mungilku. Beberapa tangkai lily menebar pesonanya diatas meja kecil di sisi sofa, menggoda mata.  Sebuah LCD seukuran papan tulis tergantung pada dinding coklat, memamerkan diagram peningkatan produksi tambang dan persebaran project sites yang semakin berkembang. Foto-foto kendaraan berdimensi raksasa  berpose angkuh bergantian menghias layar, menjadi bukti mega proyek yang sedang ditangani.

Sebenarnya angka dan foto yang terpampang disana sudah aku ketahui dari corporate overview yang aku unduh. Sudah menjadi kebiasaanku untuk lebih dulu  mempelajari company profile sebelum mengirimkan surat lamaran. Yah, sekedar mempersiapkan diri agar terampil bernegosiasi dalam tes wawancara nanti. Dengan begitu aku memperbesar probabilitasku untuk diterima bekerja. Mega company  ini sangat selektif dalam merekrut employee nya. Bahkan, staf personalianya sudah beberapa kali melakukan  phone screening sebelum akhirnya memanggilku untuk menjalani beberapa tes hari ini.

Aku masih mengagumi kecantikan lily putih yang mengintip dari balik vas kristal yang tak berwarna  ketika udara di dalam gedung mengantarkan aroma hugo boss pada ujung saraf penciumanku. Disusul  kehadiran sosok pria tinggi berpakaian rapi – yang ternyata seorang human resource  superintendent.  Pak Danang menyambutku  hangat  lalu menuntunku ke sebuah meeting room. Terdapat meja rapat  bertepikan 18 kursi yesnice hitam  ditengah ruang. Disana, hingga maghrib tibaaku dan peserta lainnya bersaing menjajakan pengetahuan dan ketrampilan yang kami punya, berharap para executive officer  terkesan lalu tawar menawar harga dan tanda tangan kontrak kerja.

Lama sudah aku berdiri di tepi TB Simatupang saat sebuah bis berhenti di hadapanku.
“Lebak Bulus, mbak!” ah, lagi-lagi nama itu yang ditawarkan si kenek.
“Ke terminal, pak?” aku bertanya putus asa.
“Terminal mana mbak?” si kenek  turun dari bisnya mendekatiku seolah tahu aku sedang disorientasi.
“Lebak bulus juga terminal mbak. Kalo mau ke terminal Kampung Rambutan, mbak  naik bis yang itu”  telunjuk si kenek mengarah pada bis diseberang jalan.
Bodohnya aku. Aku tak tahu jika  Kampung Rambutan dan Lebak Bulus yang mereka pekikan dengan lantang sedari tadi adalah nama terminal! Juga Kalideres! Seingatku di Yogyakarta, para co-driver  hanya  berteriak “terminal” lalu penumpangpun akan diantarkan hingga Giwangan – terminal bis Yogyakarta. Lelah, neo-cortex ku tak lagi mampu menyusun logikanya. Lalu otak reptil mengambil alih pertimbangan. Kuputuskan menumpang bis jurusan Lebak Bulus pergi menjauhi Ratu Prabu yang tampak semakin kecil lalu menghilang di balik rimbunnya beton-beton yang menyentuh langit.

Bis penuh sesak oleh penghuni Jakarta sepulang kerja. Bergelantungan malas dengan tenaga yang tersisa,menatap kosong pemandangan gedung-gedung di luar jendela. Masing-masing disibukan dengan pikirannya sendiri. Wajah – wajah  sayu mengisahkan besarnya letih yang mendera.  Mungkin keletihan yang sama dengan yang kurasakan tiap kali aku pulang mengajar. Menjadi part time teacher, mensyaratkanku untuk bersedia mengunjungi  beberapa tempat mengajar pada hari yang sama, tak peduli seberapapun jauhnya, hingga magrib tiba. Kupacu motor kiriman ayah menyusuri jalan-jalan kecil beraspal di tepi kota Yogya. Pernah aku harus mengajar di sebuah sekolah yang harus di tempuh 60 menit berkendaraan.  Melelahkan memang tapi entah mengapa aku tak merasa nelangsa meski dengan gaji yang tak seberapa. Kedengarannya terlalu naïf. Mungkin karena  petuah yang menembus critical area ku. Tak ada lelah yang tak terbayarkan oleh-NYA, begitu yang selalu kudengar. Yang perlu aku lakukan hanyalah mengajari anak-anak pinggir kota ini dengan ketulusan hati karena jika tidak hari ini, segala lelah pastilah akan IA bayarkan nanti. Pasti!

Arlojiku menunjukkan pukul setengah sembilan ketika bis yang kutumpangi tiba di terminal Lebak Bulus. Hanya ada satu – dua bis antar provinsi yang keluar masuk terminal di jam seperti ini. Usai menjama’ shalat Maghrib dan Isya ku, aku hempaskan tubuhku di pelataran musholla bersandarkan tiang mungil di depan tangga masuk. Aku menikmati pemandangan seorang ibu penjual minuman yang sedang bersabar menanti pembeli tak jauh dari tempat aku menatapnya.  Dan malam semakin larut namun angin tak mampu mengusir rasa gerah yang menyelimuti tubuh. Menjadikan bibirku kering. Tenggorokankupun terasa tandus. Tapi dompetku sedang musim paceklik membuatku enggan menukarkan isinya dengan segelas minuman.

“Minum mbak?”, perempuan itu seperti mampu membaca pikiranku.
“Tidak bu. Terimakasih. Uang saya cuma pas buat ongkos pulang”  jawabku jujur hanya ingin menuangkan kekalutan.
“Emang mau pulang kemana?” tanyanya berbasa-basi.
“Yogya bu”.
“Wah, kalau jam segini udah nggak ada bis ke Yogya, mbak”. Kini, penjelasannya menyebabkan pikiranku semakin kalut. Sesaat aku terdiam. Perempuan itu  sibuk memasukkan gula dan menuangkan teh ke dalam gelas.
“Nggak apa-apa bu. Nanti saya naik bis apa saja yang kearah timur” jawabku yang sebenarnya juga ragu. Aku benar-benar tak tahu rute mana yang harus kutuju.
“Ini diminum dulu”, tiba-tiba perempuan itu menyodorkan segelas teh hangat.
“Tidak bu, terima kasih,” aku menolak, khawatir uangku tak cukup untuk ongkos bis.
“Nggak apa-apa mbak. Nggak usah bayar!”. Dia tersenyum.
Senyum tulusnya meredakan dahaga siapa saja yang memandangnya.  Benar-benar aku tak pernah menduga, di tengah-tengah dorongan materialis yang menggerakan kehidupan  Jakarta masih terselip juga orang yang memberi cuma-cuma dengan mengatasnamakan rasa iba.

Sebenarnya, aku sendiri merasa iba pada diriku yang sering kehabisan uang sementara gajian masih berselang seminggu. Gajiku terlalu kecil untuk menutupi kebutuhan bulananku. Malu aku meminta pada ayah. Untunglah, aku mengenal Bu Darmi – tetangga kosku – yang  membuka usaha warung lesehan di sekitar jalan Gejayan. Bu Darmi sering memintaku membantunya untuk sekedar mencuci piring lalu pulang dengan sebungkus pecel lele gratis. Perempuan itu mengingatkanku pada Bu Darmi.

Segelas teh hangat terkurung di kedua belah tanganku. Kepulan asap yang menggeliat perlahan membawa aroma khas pucuk Camellia sinensis yang diseduh air mendidih. Bibirku menyentuh tepi gelas, menikmati sensasi manis dan kental minuman berwarna coklat pekat itu.  Terusir dahaga dan lelah. Berawal dari segelas teh, aku dan perempuan itu saling bertukar cerita. Lama juga kami bercakap-cakap di depan musholla. Obrolan perempuan yang baru pertama kali bertatap muka namun seperti sahabat lama yang secara tak terduga bersua. Aku merasa nyaman bercerita kepadanya bahwa aku sedang kehabisan uang dan tersesat di Jakarta. Perempuan itu lalu menyarankanku naik bis ekonomi yang menuju Jawa Tengah.
“Nah, naik bis itu aja mbak, trus nanti nyambung ke Yogya” tiba-tiba perempuan itu menunjuk sebuah bis yang baru masuk ke terminal. Khawatir tertinggal, aku bergegas menaiki bis setelah tak lupa mengucapkan terima kasihku kepadanya untuk suguhan teh hangat. Gratis.

Jarum pendek arlojiku terhenti diantara angka sembilan dan sepuluh sementara jarum panjangnya menyentuh angka enam. Bis meninggalkan Terminal Lebak Bulus membelah kota kecil diarah timur Jakarta. Hanya ada beberapa tempat duduk yang kosong. Sisanya ditempati oleh penumpang-penumpang lain yang segera terlelap dibuai hembusan angin yang  membelai dari sela-sela jendela yang terbuka. Aku duduk sendiri. Aku sudah terbiasa dengan kesendirian sementara ruang dihatiku masih berharap kehadirannya. Kehadiran seorang pria yang kepadanya aku  menyimpan “rasa”. “Rasa” yang tanpa rupa dan aroma namun mencabut logika siapa saja yang menghirupnya, membangkitan euphoria kemudian menyesakkan dada, lalu berakhir dengan kecewa. Mas Bram, kakak tingkatku yang kukenal sejak acara inisiasi – sebuah malam keakraban untuk menyambut kedatangan mahasiswa baru. Bahunya yang lebar, sorot matanya yang tajam, lengannya yang keras dan rahangnya yang kokoh menyimpan kelembutan kala bertutur dan bersikap. Menawan hati mahasisiwi baru manapun. Termasuk aku. Lalu, keterlibatanku di English Department Students Association memberiku ruang untuk sering bersemuka dengannya. Jika tidak sedang kuliah, kami bertemu di depan sanggar kegiatan mahasiswa dan menghabiskan siang dengan berbincang tentang banyak hal: tentang betapa killernya dosen yang mengampu mata kuliah Grammar, tentang betapa repotnya persiapan English Night, tentang betapa padatnya jadwal mengajar di sela jam kuliah, tentang betapa uniknya hidupnya dan hidupku juga tentang betapa ia memanjakan kekasihnya. Iya, kekasihnya! Dan aku menyesal tak pernah mengungkapkan rasa ini sejak semula. Terlambat sudah. Mas Bram pasti sekedar menganggapku adik tingkatnya yang butuh teman ngobrol.

“Makan – minum!,  makan – minum! ”, teriakan kenek membangunkanku. Aku tertidur selama empat jam perjalanan. Kenek meminta penumpang untuk turun dan beristirahat ditengah perjalanan kami. Bisku berhenti di  sebuah rumah makan yang aku tak tahu dimana dan apa namanya.  Orang-orang bergegas turun. Sesaat kemudian, mereka sibuk dengan hidangan tengah malamnya. Aku lapar. Kupandangi isi dompetku yang hanya cukup untuk membayar bis ke Yogya. Sudahlah, tak mengapa aku menahan lapar ini beberapa jam lagi. Aku akan memasak masakan lezat setibanya di kos, janjiku menghibur diri.

“Hei Rei, masak apa? … Hmmm harum!” tanya Kayla yang menyusulku di dapur kos.
“Tumis kangkung” jawabku bangga.
“Wah… bisa jadi pelet mujarab buat Mas Bram nih!” sahabatku ini senang sekali menggoda. Aku hanya membalasnya dengan cubitan kecil pada lengannya.
Tak seperti kebanyakan anak kos yang mempunyai cukup uang untuk menikmati berbagai kuliner yang ditawarkan pedagang makanan yang menjamur di kota gudeg ini. Aku selalu membeli seikat sayuran di warung depan kos setiap pagi, lalu memasaknya untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Selain untuk tujuan berhemat, memasak merupakan caraku mengusir sepi dan menghibur diri. Ada benarnya juga apa yang selalu dikatakan Kayla bahwa aku ini tipe mahasiswi introvert yang lebih menikmati kesindirian. Bisa jadi ini hanya kompensasiku karena takut kecewa dan terluka lagi.

Setelah tiga puluh menit beristirahat, semua penumpang kembali ke bis dan melanjutkan perjalanan. Orang-orang kembali  memuaskan kantuknya. Aku juga. Hanya bedanya mereka terlelap karena kenyangnya sementara aku tidur untuk melupakan laparku.

Hari masih pagi ketika aku mendapati diriku tiba di sebuah terminal kecil. Aku berpindah ke bis lain yang menuju Yogya. Bis penuh sesak. Para pedagang asongan naik-turun menjajakan barang dagangannya. Aku hanya membalas mereka dengan gelengan kepala setiap kali mereka menawarkannya padaku. Telepon genggamku bergetar mengantarkan pesan ibu yang menanyakan aku sedang dimana. Aku tak menjawabnya. Pulsaku habis. Ibu sebenarnya juga lebih senang aku, anak pertamanya, kembali ke rumah. Pasti karena ibu khawatir dengan ketidakmapananku dan kesendirianku yang selalu menjadi bahan gunjingan keluarga besar ku di Surabaya. Jika aku bersedia, ibu akan menjodohkanku dengan seorang pria mapan yang masih terhitung kerabat. Namun justru itu yang semakin membuatku tak ingin pulang. Bahkan ketika lebaran tiba. Aku lebih senang berada di Yogya agar bisa bertemu mas Bram atau di pulau lain agar bisa melupakan dan menanggalkan “rasa” yang tersimpan untuknya.

Bis merangkak perlahan keluar terminal, diiringi suara khas pengamen yang melantunkan lagu campursari. Kuserahkan  empat puluh ribu terakhirku pada pria berseragam lusuh  yang menagih ongkos angkutan. Empat jam kemudian aku sudah berdiri di Terminal Jombor – sebuah terminal kecil di utara Yogyakarta. Hanya tinggal menumpang satu bis lagi kearah Gejayan aku bisa sampai di kamar kosku. Tapi kini aku tak punya uang. Aku nekat memberhentikan sebuah bis berukuran tanggung yang melintas didepanku.

“Mas, saya mau ke Gejayan” teriak ku pada kenek angkutan berwarna kuning itu.
“Ayo naik mbak” kenek mempersilahkan.
“Tapi ra nduwe duit, mas” aku memberanikan diri.
Piye tho? Arep numpak bis ra nggowo duit”. Kenek itu kebingungan melihatku yang ingin penumpang bisnya namun tak punya uang.
“Tolonglah mas, saya baru dari Jakarta. Benar-benar kehabisan uang .” aku mengemis kebaikan hatinya.
“Yo wis. Ayo!” kenek mengajakku naik ke armadanya.
Senangnya. Akhirnya aku bisa pulang.

***
Aku dikejutkan dengan nada dering telpon genggamku yang berteriak keras protes meminta perhatianku. Perlahan, kubuka mata. Kutatap sekeliling. Matahari sudah meninggi. Cahayanya mengintip dari balik tirai. Jam di dinding menunjukkan pukul 9.  Aku terbaring di ruang 3 x 3 kamar kosku. Terkapar, lelah setelah seharian kemarin mengajar.  Setengah sadar, aku raih telepon genggamku dan memeriksa nomor penelpon. Kueja nomornya “+621…”. Aku terperanjat, seketika itu pula kesadaranku pulih. Suara dari seberang mengabariku kalau aku diterima bekerja. Aku melompat kegirangan. HRD Head Office Jakarta, ingin aku segera bersiap untuk phone conference dengan para  project manager  dimana aku akan ditugaskan.

***
Di atas trainer’s desk, aku duduk. Dihadapanku, empat puluh pasang mata menatap penuh selidik. Kesemuanya lelaki, para mekanik.
“Just listen to me or you’ll die” ucapku membuka kelas.
“This tank is full of poisonous gas. So, if you wanna live, listen to every single words I say. Coz I’m trying to make u keep breathing” ucapku serius.
Adalah bagian dari tugasku untuk memastikan keselamatan kerja mereka dan tiga ribu pekerja lainnya.

Kini, aku menikmati diriku yang baru sebagai seorang trainer di sebuah perusahaan pertambangan – menikmati berbagai pelayanan dengan kualitas nomor satu dan menukarnya dengan semangat bekerja sekeras batu.  Seperti yang kuinginkan.

Ditengah belantara Kalimantan, aku habiskan hari-hariku berteman pelangi yang jatuh di dalam hijaunya rimba, menatap langit senja yang keemasan yang tampak kontras dengan hitamnya bukit batu bara atau berbincang dengan bulan penuh yang tampak dekat diatas kolam asam.

Aku satu diantara sebelas wanita yang diterbangkan ke pedalaman Kalimantan: sebuah negeri harapan.

– THE END –

(Widie Dewantara – Perpustakaan SMP 10 Yogyakarta – Ketika senja menjelang)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s