ULASAN BUKU – Totto Chan: Anak Belajar Dengan Caranya Sendiri

Posted: November 21, 2012 in Book Review
Tags: , ,

Karya apik Tetsuko Kuroyanagi ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jepang pada tahun 1981. Namun hingga tiga dekade berikutnya, buku ini masih saja disebut-sebut dalam banyak tulisan dan pertemuan ilmiah psikologi dan pendidikan. Maka tak heran jika buku ini kemudian menarik perhatian PT Gramedia Pustaka Utama untuk menerbitkannya dalam versi bahasa Indonesia pada bulan April 2008. Tentu saja buku inipun sangat laris di pasar perbukuan tanah air. Hingga bulan Maret 2012, buku yang diterjemahkan oleh Widya Kirana ini sudah dicetak ulang sebanyak sebelas kali. Widya Kirana pantas mendapatkan acungan jempol atas usahanya mengalih bahasakan buku ini ke dalam bahasa Indonesia yang sederhana tanpa kehilangan pesan yang ingin disampaikan Tetsuko Kuroyanagi. Oleh karena itu, buku yang dalam versi bahasa Indonesia berjudul “Totto Chan, Gadis Kecil di Jendela” ini layak di baca oleh semua kalangan, tak hanya para guru ataupun orang tua namun juga siswa.

Tetsuko Kuroyanagi sesungguhnya mengisahkan masa kecilnya sendiri melalui buku bergenre novel ini. Kisah yang berlatarkan perang di Jepang pada tahun 1937 hingga 1945 memotret hari-hari seorang anak bernama Totto di sebuah sekolah unik. Totto yang dikarakterkan sebagai seorang anak perempuan lincah dan ramah memiliki rasa keingintahuan yang besar. Keingintahuan mendorongnya untuk mengeksplorasi dunia disekelilingnya. Namun tak jarang keingintahuan ini menjadi masalah bagi orang dewasa yang tak mampu memahaminya. Pada kenyataannya, keingintahuan ini menyebabkan Totto harus dikeluarkan dari sekolahnya meski baru kelas satu SD. Lalu mama memindahkan Totto ke sebuah sekolah yang menggunakan gerbong kereta sebagai kelas dan perustakaannya. Tomoe Gakuen nama sekolah baru Totto dan disinilah semua kisah hebat ini berawal.

Tidak hanya ruang kelasnya, Tomoe Gakuen juga menerapkan pola pengajaran yang berbeda dari sekolah kebanyakan pada jaman itu. Semua siswa diizinkan untuk mengubah urutan pelajaran sesuka hatinya. Kepala sekolah dan gurupun lebih menekankan pada pengalaman langsung sehingga pembelajaran kerap dilakukan di luar kelas. Disalah satu bagiannya diceritakan sang guru mengajak anak-anak berjalan-jalan setelah mereka menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik. Hal yang menarik adalah guru menggunakan kesempatan itu untuk mengajarkan sejarah dan biologi kepada siswa-siswanya dengan cara yang menyenangkan. Di bagian lain, siswa belajar bercocok tanam di ladang ataupun mengunjungi rumah sakit untuk menghibur korban perang. Adapula bagian dimana kepala sekolah sengaja membiarkan para siswa berenang tanpa pakaian di kolam renang atau merancang sebuah kompetisi olah raga untuk meningkatkan kepercayaan diri Yasuaki Chan yang mengalami kelainan fisik. Totto dan teman-temannya tidak hanya belajar tentang pengetahuan akademik tetapi juga tentang persahabatan dan kemanusiaan.

Kepala sekolah, Mr Kobayashi, digambarkan sebagai sosok yang sangat mencintai pendidikan dan anak didiknya. Gagasan-gagasan uniknya merupakan manifetasi dari pemahamannya yang mendalam tentang psikologi perkembangan anak, euritmik salah satunya. Sedangkan mama selalu dikisahkan sebagai sosok yang penuh perhatian dan kesabaran tiap kali harus menghadapi tingkah Totto. Sikap kepala sekolah dan pengertian mama menjadikan Totto tumbuh menjadi anak yang cerdas dan humanis. Meskipun akhirnya Tomoe Gakuen hangus akibat bom yang dijatuhkan pada tahun 1945, selama masa berdirinya, sekolah ini berhasil mendorong siswa-siswanya menjadi apapun yang mereka inginkan ketika mereka dewasa. Melalui buku setebal 271 halaman ini, Tetsuko mengajak kita untuk menjelajahi alam pikiran seorang anak SD dan keteladanan kepala sekolah, guru dan orang tua yang membimbing mereka dengan cinta. Ada banyak pemikiran dan praktik pengajaran dari kisah-kisahnya yang dapat diadaptasikan oleh guru dan orang tua. Buku ini mengingatkan kita untuk tidak sekedar mempertimbangkan apa yang ingin diajarkan namun yang tak kalah penting adalah bagaimana cara mengajarkannya.

(Widie Dewantara – Perpustakaan SMP 10 Yogyakarta – Disela-sela jam mengajar)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s