ULASAN BUKU – Quantum Learning: Menuju Pembelajar Mandiri

Posted: November 23, 2012 in Book Review
Tags: , , ,

Sejak tahun 1992, ketika pertama kalinya diterbitkan oleh Dell Publishing, buku ini menyita perhatian jutaan praktisi dan pemerhati pendidikan. “Saya menggunakan teknik ini dan teknik lainnya karena semua itu selaras dengan kerja otak anda, dengan cara-cara belajar terbaik Anda,” demikian tawaran Bobbi De Porter mengantarkan buku fenomenalnya “Quantum Learning: Unleashing the Genius in You.” Benar saja, gagasan-gagasan yang ia tuangkan dalam “Quantum Learning” mampu menginspirasi dan mempengaruhi jutaan pembacanya untuk mengakselerasi dan menikmati proses belajarnya secara mandiri. Itupula yang memungkinkan peningkatan penjualan buku ini hingga kemudian berhasil menjadi “best seller”. Sejak saat itu nama Bobbi DePotter dan lokakaryanya selalu dinanti-nanti oleh para pengagumnya.

Buku ini kemudian di terjemahkan ke dalam berbagai bahasa di banyak negara. Di Indonesia, buku ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Kaifa pada Februari 1999 dengan judul “Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan”. Buku ini masih terus digemari, hingga  April 2010 telah dicetak ulang sebanyak 25 kali. Bahkan hingga saat ini (2012),  buku tersebut masih dapat di jumpai dengan mudah di toko-toko buku – apalagi bajakannya. Jika membandingkan versi bahasa Indonesia dengan versi aslinya, akan nampak jelas penerjemahnya,  Alwiyah Abdurrahman,  sangat piawai mengemas buku ini ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa istilah teknis dan analogi yang digunakan berhasil diadaptasikan ke dalam kultur budaya Indonesia. Menarik!

Gagasan-gagasan yang dituliskan DePotter bersama Mike Hernicke merupakan hasil perjalanan panjangnya mengajarkan ketrampilan-ketrampilan belajar di Burklyn Business School yang didirikan tahun 1970an. Keberhasilan ini kemudian mendorongnya untuk mengembangkan sebuah program untuk remaja. Bersama Eric Jensen dan Greg Simpson, DePotter menyelenggarakan SuperCamp di tahun 1982. Program yang diselenggarakan sepuluh hari ini berhasil mengombinasikan penumbuhan rasa percaya diri, ketrampilan belajar dan kemampuan berkomunikasi. Tahun-tahun berikutnya tak hanya di Amerika, bahkan program ini diselenggarakan hingga Moskow dan Singapura. Prinsip dan ketrampilan belajar yang melandasi SuperCamp inilah yang dituliskannya dalam “Quantum Learning”.

Menurut DePotter, memasukkan anak ke sekolah tanpa mengajarinya cara belajar sama halnya dengan mendorongnya ke kolam renang tanpa terlebih dahulu mengajarinya cara berenang. Meski ada yang berhasil namun akan lebih banyak yang tenggelam. Melalui bukunya ini, ia menawarkan berbagai strategi “how to learn” termasuk diantaranya cara menghafal, membaca cepat, mencatat, menulis dan berpikir kreatif. Seperti yang diakuinya sendiri, teknik-teknik ini bukanlah teknik baru. Teknik yang ia terapkan merupakan adaptasi dari metode-metode lain seperti Accelerated Learning, Suggestopedia, dan NLP. Namun justru hal tersebut yang membuat buku ini menjadi semakin menarik, DePotter mampu mengambil dan memadukan intisari dan keunggulan dari setiap metode untuk kemudian diolah menjadi sebuah perangkat pembelajaran eclectic yang menyenangkan.

DePotter juga menekankan bahwa pembelajaran semestinya menyenangkan sehingga pembelajar dapat menikmatinya dan terus memotivasi diri. Untuk mendukung hal ini, maka penting bagi pembelajar untuk memperhatikan lingkungan fisik dan lingkungan emosional. Pada bab empatnya, DePotter mengingatkan kita tentang beberapa hal praktis terkait dengan penataan kenyamanan lingkungan fisik untuk kebutuhan belajar, misalnya pencahayaan, musik, alat bantu visual, juga perabotan. Penulis juga memandu pembaca untuk mejaga kesiapan emosi dan mentalnya, misalnya saja menemukan dan memaknai alasan belajar yang ia ulas di bab tiga. AMBAK begitu sang penerjemah mengalihbahasaknnya. Juga, betapa pentingnya untuk menjaga sikap positif ketika belajar. Sejumlah strategi penulis bagikan dalam rangka memupuk sikap sebagi juara dari cara bereaksi terhadap kegagalan, memilih pikiran-pikiran positif melalui self-talk hingga mengatur bahasa tubuh.  Banyak hal-hal sederhana yang seringkali kita abaikan namun ternyata sangat mempengaruhi keberhasilan belajar kita.

Di sepanjang tulisannya, DePotter mengaitkan strategi yang ia tawarkan dengan penemuan-penemuan tentang otak serta modalitas (gaya belajar) sehingga pembaca tidak sekedar tahu langkah praktisnya namun juga memahami alasan yang melandasinya. Penjelasan tentang otak dibahas secara komprehensif pada bab dua. Disana, DePotter mendiskusikan tentang dualisme otak – kanan dan kiri – dan  otak “3 in 1” – neokorteks, sistem limbik dan otak reptil. Lebih dari itu, pembahasan tentang otakpun dilanjutkan hingga pada hipotesa tentang bagaimana informasi diproses dan disusun di dalam otak setelah melewati pintu modalitas. Pada bab enam, DePotter mengajak pembacanya untuk mengenali dan menyadari kecenderungan modalitas yang dimiliki. Modalitas merupakan pintu masuk informasi: Visual, Audio dan Kinestetik. Dominasi otak dan modalitas merupakan dua hal penting yang perlu kita ketahui untuk memilih strategi belajar tertentu. Informasi-informasi ini tak hanya penting bagi pembelajar tapi juga para pengajar yang tengah berusaha melatihkan siswanya untuk menjadi pembelajar yang kritis, kreatif dan mandiri.

Ada lebih banyak hal menarik lain tentang buku “Quantum Learning” yang belum terungkap dalam tulisan ini namun jika diminta untuk mewakilinya dengan satu kata, saya memilih kata: DAHSYAT!

(Widie Dewantara – Laboratorium Bahasa – Sepulang Mengajar)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s