ULASAN BUKU – Hypnosis in Teaching: Strategi Berkomunikasi dengan Pikiran Bawah Sadar Siswa.

Posted: December 17, 2012 in Book Review
Tags: , , ,

Belakangan ini, pemanfaatan hypnosis tidak lagi terbatas untuk keperluan konseling melainkan meluas ke berbagai bidang lain, dari kecantikan, pengembangan diri, kesehatan, kebidanan, pemasaran hingga bidang pendidikan. Di tahun 2010, buku-buku yang membahas tentang hypnoteaching (baca juga ulasan buku hypnoteaching) mulai bermunculan, diantaranya adalah “Hypnosis in Teaching: Cara Dahsyat Mendidik dan Mengajar” yang diterbitkan oleh Visi Media. Membaca kata hypnosis/ hipnosis, neuron kita lalu mengasosiasikannya dengan adegan dimana seorang hypnotist (praktisi hipnosis) dengan bantuan pendulum membuat suyet memasuki “alam tidur”nya. Namun, bukan ketrampilan menghipnosis semacam itu yang dijabarkan dalam buku setebal 168 halaman ini. Jadi jangan mengira buku yang ditulis oleh Andrian Hakim ini akan membahas tentang tehnik induksi untuk memandu siswa memasuki “deep trance state”. Alih-alih, penulis mengupas tentang indirect hypnosis yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk meningkatkan kualitas pengajarannya.

Jika kita menilik perkembangan pengetahuan di tahun 1900an, sejarah mencatat nama James Braid – seorang ahli bedah berkebangsaan Skotlandia – yang memperkenalkan istilah hypnosis. Kata tersebut berasal dari kata “Hypnos” – dewa tidur bangsa Yunani. Hypnosis sendiri dimaksudkan sebagai sekumpulan pengetahuan dan ketrampilan untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar mememainkan peranan penting dalam kehidupan setiap orang karena menyimpan ingatan jangka panjang, kebiasaan, emosi dan self image sehingga menjadi pengendali prilaku. Agar dapat mengakses pikiran bawah sadarnya, gelombang otak seseorang harus berada pada frekuensi alpha atau theta. Keadaan semacam inilah yang kemudian sering kita kenal dengan istilah “memasuki alam tidur”. Ketika gelombang otak seseorang berada dalam kondisi alpha atau theta, tingkat sugestibilitasnya sangat tinggi sehingga sangat mudah menerima informasi. Di dalam buku ini, tehnik-tehnik untuk mengakses pikiran bawah sadar kemudian diadaptasikan penggunannya di ruang-ruang kelas sehingga dapat dimanfaatkan oleh para guru untuk meningkatkan fokus dan motivasi belajar siswanya. Namun, tentu saja tehnik-tehnik yang dimaksudkan di dalam buku ini adalah tehnik “waking hypnosis” – sugesti melewati ranah kesadaran kita tanpa disertai ketidaksadaran.

Pengalamannya sebagai hipnoterapis dan pengajar menjadikan Andrian Hakim piawai memadukan “hypnosis” dan “teaching” menjadi sebuah ketrampilan berinteraksi untuk melejitkan potensi siswa – dan juga guru. Penulis membuka bab pertamanya dengan mengemukakan berbagai pandangan awam tentang hipnosis lalu menunjukkan keterkaitan hipnosis dengan proses belajar dan mengajar. Penulis juga mengingatkan pembaca tentang betapa motivasi berperan penting dalam proses belajar mengajar lalu menawarkan hypnosis sebagai strategi untuk meningkatkan motivasi belajar. Buku ini kemudian mengemukakan tentang CRAFT sebagai strategi untuk mengubah self image guru sehingga dapat berdaya bagi perubahan siswanya. Juga dikemukakan tentang relaksasi, mind-focus, dan berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar sebagai tehnik-tehnik untuk menembus critical area. Di bagian lain, penulis memberikan panduan bagi guru untuk melakukan self-hypnosis agar dapat mengaktivasi energi positif di setiap sesi mengajarnya. Pembaca dapat mempelajari pula pemanfaatan mirroring, eye contact dan verbal agreement untuk menciptakan hubungan yang saling membangun antara siswa – guru. Selanjutnya, penulis menyarankan agar guru dapat menyelaraskan penyampaian informasi dengan modalitas siswanya. Penggunaan tehnik Ericsonian untuk menyampaikan instruksi kepada siswa juga di bahas di dalam buku ini. Buku ini lalu ditutup dengan pembahasan tentang strategu untuk mencegah dan mengatasi masalah belajar yang kerap muncul di kelas dengan pendekatan hipnosis.

Sayangnya, bagi mereka yang awam dengan neurolingistic program mungkin akan mengalami kesulitan dalam memahami buku ini sebagai sebuah konsep yang menyeluruh dikarenakan sistematika penulisannya yang lebih menekankan pada contoh tanpa terlalu banyak menjelaskan konsep dasarnya. Jikapun konsepnya dituliskan, penjelasan tersebut terlalu umum untuk dapat dipahami sehingga memunculkan pemahaman yang ambigu. Mungkin memang demikian yang diinginkan penulis: memberikan contoh praktis dengan tidak membebani pembacanya dengan berbagai konsep yang memberatkan. Namun di sisi lain, bagi guru yang tak asing dengan neurolinguistic program, tehnik-tehnik yang dipaparkan oleh Andrian Hakim akan semakin memperkaya ketrampilannya untuk mempengaruhi prilaku dan menginspirasikan siswanya. Terlepas dari kesemuanya, buku ini membangkitkan sebuah kesadaran bahwa figur guru sebagai model pembelajar dan komunikator yang sukses memegang peranan vital dalam penanaman nilai-nilai positif di alam bawah sadar siswanya.

(Widie Dewantara – Prima Internet Cafe – Mengisi waktu senggang)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s