OPINI – Menyambut Kurikulum Baru: Sikap Kita Kini Menentukan Keberhasilan Kita Nanti

Posted: December 21, 2012 in Opinion
Tags: , ,

Menjelang diluncurkannya kurikulum baru, tentu saja mendulang beragam respon dari berbagai kalangan, terlebih-lebih dari guru sebagai garda depan implementasi kurikulum. Cukup banyak guru yang optimis terhadap perbaikan yang akan dibawa oleh kurikulum tersebut, namun tak sedikit pula yang meragukan signifikansinya bagi pendidikan. Bersikap optimis ataupun pesimis merupakan pilihan bebas setiap guru sebagai individu yang memiliki kemerdekaan berfikir. Namun, yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa sikap apapun – optimis ataupun pesimis – yang diambil oleh seorang guru akan mempengaruhi tinggi atau rendahnya kualitas mengajarnya yang pada akhirnya berkontribusi pula atas baik atau buruknya kualitas pendidikan Indonesia.

Di forum-forum guru, di jejaring sosial dan dalam perbincangan informal, mudah sekali dijumpai komentar bernada apatis para guru atas upaya pembaharuan ini. Sah – sah saja memberikan pendapat yang demikian karena yang demikian ini merupakan hasil bentukan lingkungan dan kemampuan berfikir. Hanya saja, saya mengkhawatirkan kita – para guru – terlalu sibuk  mengeluhkan buruknya sistem pendidikan di negeri ini tanpa disertai upaya untuk memperbaiki diri sendiri. Nampak ironis ketika kita mempermasalahkan kurikulum yang berlaku nasional sementara kita sendiri  tak menjadi solusi  bagi permasalahan bahkan yang bersifat regional. Menjadi tak adil ketika kita mengkritik upaya merancang kurikulum untuk 33 provinsi sementara kita sendiri tak mampu mengembangkan materi. Rasanya tak pantas ketika kita berkomentar tentang buruknya upaya mememetakan kompetensi untuk  17.000 pulau sementara  kita sendiri tak mengenali potensi siswa yang diampu. Sekedar mempermasalahkan kurikulum baru tak akan membantu pemecahan permasalahan pendidikan kita. Mengeluh dan menuntut pihak lain melakukan perubahan tanpa disertai dengan upaya peningkatan kemampuan dan ketrampilan diri kiranya jauh dari hakikat seorang guru yang semestinya bertindak mengatasi masalah.

Pada beberapa kesempatan lain, saya juga berinteraksi dengan para guru yang tetap berteguh hati mengoreksi diri tanpa mempedulikan wacana buruk yang berkembang di luar. Menariknya, kehadiran mereka selalu dinantikan siswanya tak peduli seberapa sulitnya materi yang diajarkan dan seberapa banyak tugas yang diberikan. Siswa – siswanya mencintainya, mencintai kelasnya dan yang lebih penting lagi mencintai belajar. Guru – guru ini melakukan hal sederhana yang berdampak luar biasa. Mereka lebih senang memikirkan hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan dari pada menyesali buruknya kenyataan. Istiqomah dalam membaca, mengembangkan materi, mengevaluasi, menginspirasi, juga menebarkan semangat mendidik merupakan sedikit dari banyak pilihan cerdas yang mereka lakukan. Guru – guru ini percaya untuk memperbaiki kenyataan di luar dirinya harus diawali perubahan dari dalam diri. Alih-alih mengeluhkan kurikulum, mereka berefleksi lalu meningkatkan praktik mengajarnya. Bagi mereka kurikulum hanyalah sebuah pertimbangan untuk kepentingan pendidikan nasional yang muatannya dapat diaptasikan dengan berbagai strategi untuk memenuhi kebutuhan belajar berkonteks lokal. Berpikir dengan cara demikian, maka guru tidak perlu memusingkan pergantian kurikulum. Guru hanya perlu mempelajari semangat dasar dan konsep yang melatarbelakanginya, lalu menyelaraskan dengan segala potensi yang dimiliki konteks pengajarannya.

Sementara sebagian guru mengeluhkan berbagai kekurangan yang dimiliki sistem pendidikan kita, sebagian lain berfokus mengatasi masalah dengan segala kemampuan yang mereka punya. Kelompok pertama akan melahirkan generasi pengeluh berikutnya sementara kelompok yang lain mencetak generasi yang memanfaatkan potensi individualnya untuk kesejahteraan sosial. Menurut hemat saya, gurulah penentu utama kualitas pendidikan, sementara kurikulum sekedar dokumen panduan muatan dan ketrampilan akademik yang adaptif. Perubahan kurikulum akan kontraproduktif selama guru tak mengubah cara berpikir dan bertindaknya kearah yang lebih produktif. Terlepas kurikulum apapun yang kita miliki nanti, hal terpenting yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita saat ini adalah optimisme dan antusiasme guru untuk mengembangkan diri dan menyikapi masalah yang muncul dalam wewenang mengajarnya.  Saya berkeyakinan bahwa antusiasme dan optimisme kita – para guru – hari ini akan menentukan peradaban Indonesia nanti. Semoga kita mampu menyambut perubahan kurikulum ini dengan pikiran, perasaan dan sikap yang membangun.

(Widie Dewantara – Laboratorium Bahasa SMP 10 Yogyakarta – Setelah shalat Jumat)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s