REFLEKSI – Mengajari Calon Guru “Mencangkul”

Posted: January 14, 2013 in Teaching Reflection
Tags: , ,

“Sebaiknya adik –adik baca dulu buku – buku ini sebelum mengajar di kelas saya nanti,” demikian saran saya siang itu menutup perbincangan dengan sejumlah mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris yang sedang “magang” (PPL) disekolah kami. Bukannya jadwal mengajar, silabus ataupun contoh lesson plan yang saya berikan dipertemuan awal dengan mereka, melainkan sejumlah “must-read teaching books” yang harus mereka pelajari dan adaptasikan untuk kelasnya nanti. Daripada ditolak oleh para siswa yang merasa proses pembelajaran mereka terganggu, lebih baik melakukan persiapan pengajaran dengan membelajarkan diri sendiri dulukan? Seperti yang sudah saya prediksi, enam tahun saya menjadi mentor bagi para mahasiswa magang, selalu respon primitif yang sama yang saya peroleh dari mereka meski jamannya sudah modern. Mereka bersungut-sungut keluar ruangan sambil mempertanyakan apa pentingnya membaca buku – sebuah prilaku yang didorong oleh aktifnya primitive brain kala merasa tertekan. Bukankah yang mereka butuhkan cukup silabus dan lesson plan?

Ah, anak-anak muda ini memang belum paham jika membaca buku-buku itu jauh lebih berharga dari pada sekedar mengkopi silabus atau lesson plan milik saya. Teknologi digital membesarkan mereka dengan mental “copy-paste” yang justru mengkerdilkan daya kreativitas mereka. “Anggap saja ini kitab resep rahasia para koki kelas dunia” canda saya. Bukannya tanpa alasan, buku-buku tersebut sekelas dengan kitab bumbu inti yang memampukan mereka mengolah kurikulum menjadi silabus, lalu memasaknya menjadi lesson plan dan dengan berbagai tambahan rempah, para calon guru ini akan dapat menyajikan hidangan pembelajaran yang lezat, hasil kreasinya sendiri – orisinil! Mereka juga belum mengerti bahwa tujuh semester sekedar mendiskusikan wacana pengajaran di kampus tidak serta merta menjadikan mereka guru yang mampu membelajarkan. Terlebih-lebih wacana pengajaran yang mereka ketahui hanya sekedar dari “katanya dosen” tanpa mereka mengecek sendiri sumbernya lalu menerapkannya di kelas apalagi melakukan refleksi. Yang cukup memprihatinkan lagi bagi saya adalah setelah hampir empat tahun para calon guru ini menempuh pendidikan keguruan belum satupun buku pengajaran yang pernah mereka baca hingga tuntas. Tak heran jika mereka memiliki pemahaman yang terpotong-potong dan sikap yang terkotak-kotak terhadap kegiatan belajar dan mengajar. Maka, kalaupun saya memberikan silabus dan lesson plan milik saya sudah pasti mereka akan lebih kesulitan mengadaptasikannya karena tidak memahami pengetahuan yang melatar belakangi pemilihan materi dan kegiatan yang tersusun disana. Oleh karena itu, sebenarnya yang ingin saya tularkan pada mereka adalah semangat membelajarkan diri sebelum membelajarkan siswa, berfikir kreatif sebelum menuntut kreatifitas siswa, dan membumikan wacana pengajaran hingga terindera oleh mata – tidak lagi sekedar mendasarkan pada “katanya dosen”.

Sama sekali TIDAK bermaksud untuk MENYALAHKAN pihak manapun. Para dosen di kampus sudah menjalankan tugasnya mengasah ketajaman berfikir para calon guru ini, kini giliran guru disekolah membantu mereka untuk mengkonversinya menjadi ketrampilan mengajar sesuai dengan konsep kekinian. Tentu saja setiap lini pasti punya keterbatasannya sendiri. Justru kondisi ini menyadarkan saya bahwa ada celah yang perlu saya – dan kita, para guru – isi untuk menjembatani antara pengetahuan “maya” para calon guru ini dengan pengalaman “nyata”. Maka pada pertemuan – pertemuan lain dalam membimbing para mahasiswa magang tersebut, kami membicarakan sejauh mana berbagai teori dan pendekatan dapat dimanfaatkan dalam menyusun silabus, lesson plan lalu diimplementasikan dikelas – eclecticism. Juga, melakukan peer-observation, diikuti refleksi dan saling memberikan masukan dengan mengadaptasikan penemuan terbaru pada kebutuhan di kelas. Saya sendiri tidak perlu membicarakan kekurangan–kekurangan mereka ataupun melakukan justifikasi melainkan merekomendasikan beberapa solusi praktis berdasarkan pemahaman multidisiplin untuk permasalahan dikelasnya dengan harapan para calon guru ini kemudian menemukan “keasyikan” mengajar. Saya hanya perlu membangkitkan gairah mereka untuk membaca lagi, mempraktekan lagi lalu berdiskusi lagi. Jika sudah demikian, saya akan mendapati mereka “lebih percaya diri” untuk merancang kelasnya sendiri tanpa perlu melakukan “copy-paste”silabus dan lesson plan saya. Disanalah mereka baru memahami betapa membaca buku hingga tuntas itu penting bagi pemahaman yang menyeluruh dan betapa melakukan praktik mengajar berdasarkan pemahaman yang menyeluruh akan memacu kreativitas. Mereka juga menjadi paham bahwa berdiskusi dengan wacana yang membumi akan lebih mudah menemukan solusi.

Dan sadarlah mereka, ketika berada di ruang kuliah, mereka seperti petani yang sedang mengasah mata cangkulnya dan hanya pengalaman nyata dikelaslah yang akan menjadikan mereka petani yang mahir mencangkul dan bercocok tanam. Mengajari mereka cara mengajar tidaklah cukup dengan mengajak calon guru ini mendebatkan permasalahan pendidikan yang sedang berlangsung dari balik dinding-dinding kampus. Para calon guru ini perlu berkesempatan untuk bersemuka dengan para guru, berinteraksi dengan siswa, bergumul dengan buku dan jurnal pendidikan dan berkontemplasi di ruang kelas. Cangkul harus digunakan, mereka harus turun ke sawah. Kegiatan “magang” merupakan salah satu kesempatan yang mereka miliki. Membimbing mereka dengan sepenuh hati , meneladankan ketekunan seorang guru, menularkan antusiasme dan berbagi pengetahuan yang mutakhir akan sangat membantu pembentukan diri mereka menjadi guru yang berkarakter. Setelah dua atau tiga bulan masa magang, interaksi guru mentor dengan para calon guru ini hanya akan menghasilkan satu dari dua pilihan ini: menginspirasi atau mendemotivasi? Semoga pilihan pertama yang telah kita persembahkan bagi mereka selama ini. Kita – para guru – suatu hari nanti akan mundur dari ruang kelas, lalu merekalah sebagai gantinya. Mereka akan berdiri di sana, mencangkul dengan tantangan zaman yang lebih besar lagi. Tantangan yang hanya bisa di jawab dengan antusiasme dan kemuktahiran pengetahuan “seorang petani”. Dan dari kitalah – para guru – mereka mencontohnya. Selamat meneladankan diri.

(Widie Dewantara – Menjelang Dhuhur – Merapi Internet Cafe)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s