REFLEKSI – Praising: Menumbuhkan Hasrat Belajar

Posted: March 20, 2013 in Teaching Reflection
Tags: , , , ,

“Empat, Uncle!” jawab Bumi menunduk lemas ketika saya bertanya tentang hasil simulasi ujian nasionalnya.
That’s great!” sahut saya bergembira  sambil memamerkan acungan jempol. Terkejut, Bumi hanya menatap saya, tak mengerti harus berucap apa.
“Berarti kerja keras kamu berikutnya bisa berbuah nilai delapan tuh!” saya tersenyum lebar berharap optimisme ini menginfiltrasi alam bawah sadarnya.
“Semoga saja ya, Uncle. Terima kasih” ucap Bumi yang tidak menyangka mendapat pujian siang itu.
Ia melebarkan bahunya lalu menegakkan punggungnya. Pastilah neuron “cermin” pada otaknya yang memerintahkan tubuh Bumi segera menyelaraskan bahasa tubuhnya hingga otot zigomatikus menarik sudut bibir, memamerkan barisan gigi Bumi yang putih namun tak rapi. Juga, orbicularis okuli berkontraksi menyebabkan matanya menyipit namun masih terlihat jelas pupil matanya yang melebar. Korneanya  yang basah memantulkan sinar mentari siang itu, menjadikan matanya seolah berkaca.  Bumi tersenyum gembira, sejumlah endorphin menumpahi area di kepalanya. Bumi menggenggam tangan saya erat kemudian berlalu setelah berjanji untuk mempersembahkan ikhtiar terbaiknya.

Memang benar, empat bukanlah  angka yang menggembirakan dalam wacana akademik. Jika berbicara dalam bahasa statistik, Bumi termasuk sedikit siswa yang menjawab salah bahkan pada  soal dengan tingkat kesukaran 0.9. Tentu saja, mendapatkan nilai buruk  bukanlah hal yang menyenangkan bagi siswa. Bahkan seringkali, nilai buruk berefek pada memburuknya kepercayaan  diri dan konsep diri siswa. Di tengah situasi ini, siswa lebih membutuhkan dukungan daripada tekanan verbal. Lagipula, sekolah bukanlah sekedar tentang pencapaian angka akademis yang akan berakhir ketika siswa memperoleh nilai empat. Sekolah adalah taman dimana hasrat belajar seorang siswa ditumbuhkan dan dirawat. Jadi tak peduli berapapun nilai akademisnya saat ini, yang terpenting hasrat belajar Bumi tak boleh mati.

Alih-alih memberi tekanan verbal  pada Bumi dengan meng”instruksi”kannya belajar lebih keras, saya lebih memilih untuk mengakui kerja kerasnya. Tekanan verbal mungkin saja mendorong siswa  menambahkan jam belajarnya namun tak menumbuhkan hasrat belajarnya. Bumi sendiri pasti sudah lelah dengan “nasehat” untuk belajar lebih keras sementara usahanya sudah mencapai titik maksimal.  Ungkapan-ungkapan seperti  “Jangan malas”, “Jangan sampai tidak lulus!”, “Jangan main terus!” atau “Kamu harus bekerja lebih keras lagi!” yang seringkali ditujukan untuk memotivasi akan diterjemahkan oleh emosi yang lelah sebagai pengabaian atas kebutuhannya untuk di apresiasi. Jamak terjadi, bukannya termotivasi, terlalu banyak “menasehati” dengan “instruksi” semacam ini hanya  akan berakhir pada semakin tebangunnya “affective filter” pada diri siswa sebagai respon pertahanan “ego” nya. Jika sudah demikian, justru akan menjadi sulit bagi siswa dan guru untuk bekerja sama dalam proses belajar dan mengajar.

Bobbi de Potter (1999) dalam bukunya Quantum Teaching, menjelaskan bagi pembelajar seperti  Bumi, seringkali proses belajar menuntutnya mengambil resiko untuk meninggalkan “comfort zone” dan hal ini membutuhkan keberanian dan usaha yang cukup besar dari siswa. Pengambilan resiko dapat mengaktifkan otak siswa dan menumbuhkan hasrat belajarnya hanya jika siswa mendapat dukungan dan rasa aman dalam proses belajarnya. Untuk memberikan dukungan dan ruang yang nyaman bagi proses pembelajaran, guru perlu melakukan apa yang Bobbi do Potter sebut dengan “perayaan”. Praising (memberi pujian) baik dalam bentuk verbal ataupun non verbal disaat siswa membutuhkan dukungan merupakan salah satu bentuk perayaan.  Bukan bentuk kepuasan pada hasil yang ingin ditunjukkan ketika guru memuji, melainkan bentuk apresiasi terhadap usaha yang dilakukan oleh siswa dalam mengambil resiko meninggalkan “comfort zone”. Meski sesederhana ungkapan “That’s great!” ataupun sekedar acungan jempol, siswa akan mendapati usahanya diakui. Emosi positif semacam ini merupakan energi untuk memacu prestasi akademik.

Dua minggu berselang, Bumi berlari mengejar  saya di koridor.
“Enam koma empat, Uncle!” teriak Bumi antusias melaporkan peningkatan nilainya pada simulasi ujian nasional yang lain.
You’re the champ: sanggup mengalahkan diri sendiri! ”sambut saya.
Bumi menggenggam  tangan saya erat. Binar matanya menjanjikan saya ikhtiar terbaiknya yang lain. Semoga saja.

(Perpustakaan SMP 10 Yogyakarta – Menjelang Shalat Dhuhur)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s