REFLEKSI – Sebut Namanya, Rebut Hatinya

Posted: March 27, 2013 in Teaching Reflection
Tags: , ,

Galuh, number one please”.
“It’s your turn, Sabda.”.
“What do you think, Leo?”.

Demikian yang saya lakukan tiap kali berinteraksi dengan siswa di dalam kelas, disusul  respon positif  mereka. Saya selalu menggunakan nama mereka, terlebih saat menginginkan seorang siswa melakukan sesuatu. Menunjukkan kepada siswa bahwa saya mengingat namanya  merupakan cara saya untuk menyampaikan kepada mereka bahwa mereka adalah pribadi yang penting. Pengalaman membawa saya pada sebongkah pengertian bahwa menyebutkan nama mereka dengan tepat merupakan sebuah strategi yang efektif untuk merebut perHATIan siswa.

Tentulah, bagi seorang guru, nama siswa  merupakan satu  diantara “must-know things about students”.  Betapa tidak, nama tidak sekedar berfungsi sebagai “identitas” namun juga representasi “harga diri” dibalik rupa, karakter dan prilaku yang terindera. Perhatikan saja, kita akan mencurahkan segenap perhatian  serta merasa dihargai setiap kali mendengar nama kita disebut dengan penuh hormat. Demikian pula siswa, setiap kali guru berkomunikasi dengan menyebutkan namanya, jauh di dalam diri siswa, ia akan merasa bahwa guru tersebut sedang memperlakukannya dengan cara yang bermartabat.

Seringkali hilangnya rasa hormat siswa terhadap guru hanya dikarenakan interaksi guru dan siswa di dalam kelas yang berlangsung tanpa saling mengenal. Situasi yang demikian hanya akan mengarah pada semakin rendahnya motivasi belajar siswa dan semakin tingginya ketegangan di dalam kelas. Mengenal dan menyapa siswa lewat nama merupakan upaya untuk membangun hubungan positif antara guru dan siswanya. Pertanyaan, permintaan, nasihat akan lebih bermakna bagi siswa ketika guru memanggilnya dengan nama  bukan dengan nomor absen ataupun sebutan lain. Seperti hanlnya guru yang enggan dipanggil dengan sebutan “Pak Matematika” atau “Ibu Bahasa Inggris”, siswapun pada dasarnya enggan dipanggil dengan “Eh”, “Kamu” atau  “Itu yang dipojok”.

Jumlah siswa yang besar memang bisa menjadi penghambat bagi guru untuk mengingat nama siswa namun tentunya guru diharapkan memiliki strategi untuk dapat mengingatnya. Sepanjang pertemuan awal, saya selalu mengawali  pertemuan kami dengan mengabsen siswa lalu mencoba menggunakan nama mereka di setiap kesempatan yang saya miliki sepanjang kegiatan pembelajaran. Seringkali, saya mencari keunikan nama mereka sebelum masuk ke kelas.  Secara mental, saya juga mencoba mengasosiasikan nama mereka dengan sesuatu yang unik tentang diri mereka. Mengurutkan nama mereka berdasarkan tempat duduknya juga membantu saya mengingat. Meminta siswa menggunakan label nama merupakan strategi lain yang saya terapkan agar dapat menyapa siswa secara pribadi. Akhirnya dalam pertemuan ke empat saya bisa menghafal nama ke tiga ratus dua puluh delapan siswa yang saya ampu.

Sepertinya, tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa  mengenal nama siswa merupakan langkah awal bagi guru untuk dapat menyelam lebih jauh lagi kedalam relung hati setiap siswanya dan menanamkan benih-benih rasa hormat dan semangat positif  di dalamnya.

(Widie Dewantara – Setelah shalat Isya – Prima Internet Cafe)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s