ULASAN BUKU – Indonesia Menginspirasi: Berguru Pada Ciptono dan Anak Berkebutuhan Khusus

Posted: October 23, 2013 in Book Review
Tags: , , , ,

Indonesia-menginspirasi

Ciptono Jayin, peraih Penghargaan Kick Andy Heroes 2010 bidang pendidikan, mengajak kita menelusuri babak – babak perjuangannya sebagai seorang guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang ia kisahkan dalam “Indonesia Menginspirasi”. Buku setebal 160 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang pada Juni 2013 ini memotret pengabdian seorang guru yang melayani anak berkebutuhan khusus (ABK). Tidak hanya menginspirasi siswa – siswinya, Ciptono juga meneladankan pemerintah, swasta dan masyarakat Indonesia melalui kegigihannya untuk menembus batas dan mencipta perubahan. Kisah ini, merupakan harapan positif yang sering kali ditenggelamkan pamornya oleh pesimisme kita pada kemajuan pendidikan di negeri ini.

Mengawali kisahnya dengan pengalaman masa kecilnya yang sederhana di desa Susukan, Ciptono menggambarkan dirinya sebagai siswa yang prestasinya biasa – biasa saja bahkan cenderung nakal. Dibesarkan oleh sang nenek, Ciptono tumbuh menjadi pemuda yang mudah bergaul dan bercita – cita tinggi. Meski akhirnya gagal berkuliah di fakultas kedokteran UGM, jiwa sosialnya mendorong Ciptono untuk menimba ilmu di kampus Pendidikan Luar Biasa – IKIP Yogyakarta. Menjadi guru adalah jalur pengabdian yang juga bisa bermanfaat bagi orang lain, demikian yang terbesit di benaknya kala itu. Menjadi guru tidak serta mengubah keadaan ekonomi Ciptono menjadi lebih baik, bahkan keadaan yang pas – pasan ini terus berlangsung hingga ia berkeluarga. Menjadi guru les, berjualan mebel, bekerja hingga malam, meminjam uang merupakan secuil kisah pahit  yang mengindahkan kehidupannya nanti. Pengalaman masa mudanya itulah yang kemudian membentuk Ciptono menjadi seorang guru yang penuh dedikasi hingga mengantarkannya menjadi Kepala SLB Negeri Semarang. Dengan bahasa dan alur berfikirnya yang sederhana, buku ini, merupakan cara Ciptono mengapresiasi pengalaman pribadinya secara positif.

Tentunya jalan pengabdian yang ia tempuh berliku dan berbatu. Terhimpit oleh permasalahan pribadi dan institusi tidak serta merta memadamkan semangat Ciptono untuk menebarkan optimisme kepada siswa – siswanya. Di saat orang – orang memandang sebelah mata terhadap eksistensi ABK, Ciptono dengan keuletannya mengangkat harkat ABK di SLB YPAC dengan berbagai aksi sosial yang ia prakarsai. “Aku bisa” demikian slogan siswa – siswi SLB YPAC. Ciptono berhasil menyadarkan kita akan keberadaan ABK di tengah – tengah kehidupan kita sebagai anugerah Tuhan. Bagi Ciptono, ABK bukanlah produk Tuhan yang gagal, justru mereka merupakan sumber inspirasi. Betapa tidak, dari ABK kita dapat belajar bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menembus batas.

Benar saja, keyakinannya ini ia buktikan dengan melejitkan potensi siswa – siswanya hingga berhasil meraih berbagai penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Gigih, seorang tunadaksa, mampu membuat tas dari manik – manik dengan menggunakan kedua kakinya. Andi Wibowo, seorang tunagrahita, terampil menggunakan kedua belah tangannya untuk mencipta dua gambar yang berbeda di saat yang bersamaan. Bambang Muri, yang dinyatakan idiot savan, mampu menghafal 200 lagu. Munif Chatib, penulis buku Sekolahnya Manusia, menggelari Ciptono sebagai Gurunya Manusia karena berhasil mengembangkan sekolah berbasis kecerdasan majemuk. Sampai pada titik ini, seolah menerima tamparan keras, kita tersadarkan bahwa seharusnya bukan siswa yang mengikuti kurikulum, namun sudah semestinya kurikulum dikembangkan berdasarkan kemampuan siswa. “ABK tidak butuh dikasihani, mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya,” papar Ciptono meyakini bahwa ABK pun memiliki harapan untuk berkembang sesuai bakat dan minatnya.

Ketulusan Ciptono ternyata tidak menjamin perjuangannya terbebas dari berbagai prasangka, Tudingan mengekploitasi ABK yang ditujukan kepadanya, ia tepis dengan ketekunannya membesarkan nama SLB Negeri Semarang. SLB yang kini sering menerima kunjungan dari berbagai pihak dan dijadikan percontohan ini merupakan buah dari kegigihannya kala mendirikan Sekolah Intervensi Dini yang menggunakan garasi rumahnya sebagai ruang belajar. Perjuangan Ciptonopun belum berakhir. Dalam rancangannya, ia bermaksud mengembangkan sebuah fasilitas pendidikan lainnya yang akan dibangun di SLB Negeri Semarang. Ia masih menggantungkan sebuah cita – cita untuk membangun sebuah perkampungan dimana para ABK dapat mengeksplorasi potensi dan menunjukkan eksitensinya dalam karya. Ia menyebutnya Rumah Inspirasi.

Kisah Ciptono layak menjadi teladan ketulusan dan kegigihan bagi guru – guru di tanah air. Di dalamnya tersirat pesan bahwa seringkali keterbatasan yang kita – para guru – jumpai dalam mengemban tugas sebagai seorang pendidik merupakan cara Tuhan mebelajarkan kita agar menjadi lebih kreatif dan inovatif. Jika kita menghayati kisah Ciptono dan ABK yang mampu mengubah keterbatasan menjadi kemudahan dalam berkarya, maka malu rasanya jika kita tidak menjadikan berbagai kemampuan yang kita miliki sebagai  sumber kebaikan bagi orang lain.

(Widie Dewantara – Kamar Kos – Waktu Dhuha)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s