ULASAN BUKU – Menjadi Guru Inspiratif: Keteladanan Para Petani Peradaban

Posted: March 27, 2014 in Book Review
Tags: , ,

Ulasan Buku - Kisah Guru Inspiratif

Guru yang ikhlas adalah petani yang mencetak peradaban”, tulis Ahmad Fuadi menganalogikan peran seorang guru. Merenungi apa yang telah dilakukan oleh para gurunya, Ahmad Fuadi mendapati bahwa generasi hebat hanya dapat ditumbuhkan oleh guru-guru yang bertekad kuat untuk meneladankan kebaikan: pengabdian, kerja keras, ketulusan dan kejujuran. Tema inilah yang kemudian menjiwai kisah-kisah yang terangkum di dalam buku setebal 186 halaman ini. “Menjadi Guru Inspiratif” adalah kisah tentang para petani peradaban yang bersungguh-sungguh memelihara bibit penerus bangsa, menyiraminya dengan akhlak terpuji dan memupuknya dengan ilmu pengetahuan.

Selain Ahmad Fuadi, ada tiga belas penulis yang menyajikan kisah nyata dalam buku yang diterbitkan pada Desember 2012 ini. Rahman Adi Pradana, pengajar muda dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, menuturkan kisahnya menghidupkan kembali upacara bendera di sebuah SD di Indong. Rakhmawati Agustina, akitivis LSM, memaknai pengalamannya menjadi guru bagi anak-anak jalanan di kota lumpia. Faradilla Devi bertutur tentang perjuangan ayahnya ketika mendirikan sebuah SMA di sebuah daerah transmigrasi. Adapula kisah tentang dahsyatnya kekuatan repetisi yang dikisahkan oleh Muhammad Al Aliy Bachrun, alumni dan pengajar di Ponpes Darussalam Gontor. Sofa Nurdiyanti, seorang mahasiswa SGEI, bercerita tentang hari-harinya selama magang di sebuah SD di Sukabumi. Alita Suyadi, guru TK, merefleksikan apa yang telah ia lakukan di kelas Matahari.

“Sepuluh Jari Karenanya” yang ditulis oleh Rosemary Ashalba merupakan kenangan penulis tentang kedisiplinan seorang gurunya di SMP 1 Bandung. “Terdampar di Pondok Pesantren” merupakan pengalaman Nabila Anwar yang semula menolak masuk pesantren namun akhirnya bersyukur karena dipertemukan dengan sosok guru yang kharismatik dan inspiratif. “Kurikulum Cinta” oleh Dewi Yuliasari memberikan kita gambaran tentang cinta seorang guru yang tak mengenal kasta. “Maksimal di Saat Minimal” adalah tentang perjuangan Dwi Yulianti menghidupkan perpustakaan di sebuah sekolah kecil tempatnya mengajar. Febi Mutia mengenang gurunya yang selalu kreatif dalam mengajar dalam “Ibu Erna yang Bertabur Cinta”. Akhirnya, buku terbitan Bentang ini ditutup oleh kenangan Taufiqa Hidayati tentang gurunya yang selalu mampu membangkitkan semangatnya.

Di dalam buku ini, pesan-pesan tentang keteladanan seorang guru dikemas dalam bahasa narasi. Tanpa bermaksud memandang rendah , alur dari beberapa kisahnya terlalu melebar untuk dikisahkan dalam tulisan pendek. Sepertinya disebabkan terlalu banyak kejadian yang ingin diceritakan, beberapa penulis mendeskripsikan detail situasi yang tak diperlukan sehingga membentuk paragraf yang terlalu panjang dan mengaburkan gagasan yang disampaikan. Penuturan yang bertele-tele dari beberapa kisah ini mungkin akan menyebabkan pembaca khilangan “passion” untuk mengikuti alur cerita. Bahkan pemilihan kata pada beberapa bagian cerita mengesankan arogansi dengan menonjolkan “sang aku” sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Entahlah, mungkin saja penulis sengaja memunculkan gaya tulisan yang demikian “jujur” untuk menguatkan kesan “curahan hati”.

Namun demikian, masing-masing cerita yang ditulis Febi Mutia dan Nabila Anwar layak mendapat acungan jempol pembaca. Bukan sekedar mendeskripsikan sebuah peristiwa, kedua penulis tersebut dengan indah menarasikan kaitan antar peristiwa tanpa kesan berlebihan. Hal ini dimungkinkan karena pemilihan kata yang tepat dalam menstimulasi imaji yang merepresentasikan situasi yang sedang diceritakan. Misalnya saja ketika Febi menceritakan apa yang dilakukan oleh Bu Erna di dalam kelasnya, “…, beliau mengeluarkan sebuah keramik biru mungil. Menyusul gulungan kertas keci yang banyak. Potongan itu dimasukkan ke dalam guci, persis seperti permainan julo-julo atau arisan. Lalu, ada pula bungkusan kado-kado mini ditata di meja. beberapa anak yang di bangku belakang mengakkan leher untuk memperjelas pandangan mereka. Hadiah memang selalu memikat, Kawan,” begitu sederhana namun mengena. Penulisan kalimat yang singkat dan berurut menuntun pembaca menikmati alurnya hingga akhir lalu menemukan makna di baliknya. “Beribu terima kasih yang tak pernah usai terhatur untuk guruku,” tulis Nabila menampilkan bentuk hormat pada guru di akhir ceritanya.

Buku ini menambah deretan rekaman kisah inspiratif yang menunjukkan berkembangnya optimisme ditengah hantaman sikap skeptis terhadap perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini. Membaca tulisan mereka, membawa kita kita pada sebuah kesadaran bahwa mungkin siswa tak mendengar apa yang dikatakan gurunya, namun siswa selalu belajar dari apa yang telah dilakukan oleh sang guru untuknya: sebuah keteladanan. Nampaknya benar adanya, keteladanan lebih fasih daripada pelajaran melalui lisan belaka.

(Kamar Kos – Widie Dewantara – menjelang Shalat Dhuhur)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s