ULASAN BUKU – Kelasnya Manusia: Hal Sederhana yang Terlupa

Posted: April 1, 2014 in Book Review
Tags: , , , , ,

cover-kelasnya-manusia

Nama Munif Chatib semakin dikenal di kalangan penggiat pendidikan tanah air semenjak buku perdananya, “Sekolahnya Manusia”,  yang  mengupas implementasi kecerdasan majemuk dalam konteks sekolah diterbitkan  di tahun 2009.  Mengusung tema mengembalikan fitrah siswa sebagai manusia, konsultan pendidikan yang aktif menulis ini kembali berbagi pengetahuan tentang hubungan gaya belajar dan gaya mengajar di dalam bukunya yang lain,  “Gurunya Manusia”, ditahun 2011. Bahkan setahun berikutnya Munif Chatib kembali meluncurkan dua bukunya: “Sekolah Anak-anak Juara” dan “Orangtuanya Manusia”. Tidak sekedar memaparkan konsep pembelajaran berbasis otak, di dalam keempat buku tersebut Munif Chatib juga  mendiskusikan bagaimana konsep tersebut diinterpretasikan ke dalam praktik pengajaran dan pendidikan.

April 2013, dibawah bendera PT. Mizan Pustaka, Penerbit Kaifa kembali meluncurkan tulisan Munif Chatib, “Kelasnya Manusia”. Pembaca buku-bukunya yang lain pasti sangat mengenal gaya tulisannya yang khas: sederhana dalam bahasa tutur yang dituliskan, menjadikan buku ini menjadi media dialog antara penulis dan pembacanya – seolah mendengar Munif Chatib sedang berbicara melalui bukunya.    Meski masih mengusung tema senada, jika disandingkan dengan karyanya yang terdahulu, kita akan menemukan perbedaan yang signifikan baik dari sisi fisik maupun muatan pada bukunya kali ini. Buku setebal 172 halaman ini dicetak dengan kertas glossy dan full colour. Tentu saja tampilan ini memberikan kenyaman kepada pembaca untuk memaknai halaman  demi halamannya. Pada bukunya yang kelima ini, Munif Chatib tidak lagi membicarakan tentang kecerdasan majemuk melainkan manajemen display kelas. Hal lain yang tidak dijumpai dalam buku-buku sebelumnya, kali ini penulis juga menyisipkan ide-ide lanjutan yang perlu di pikirkan oleh para guru serta link untuk mengakses pengetahuan terkait dengan topik yang dibahas pada akhir setiap babnya.

Display merupakan segala bentuk media visual yang dapat dijadikan stimulus pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan otak reptil siswa, demikian paparan penulis. Otak reptil ini menjadi pembahasan penting dalam konteks pembelajaran karena perannya sebagai gerbang yang harus dilalui informasi sebelum menuju ke neokortek, pusat kecerdasan manusia. Maka, otak reptil inilah yang kemudian akan menentukan informasi diterima atau ditolak. Menganalogikannya dengan hidangan makanan, bagi Munif Chatib, belajar membutuhkan “SELERA” sebelum informasi dicerna dalam proses “BERPIKIR” dan memaparkan siswa dengan berbagai stimulus visual dalam lingkungan belajarnya merupakan upaya guru untuk membangkitkan “SELERA BELAJAR” siswa.

Dalam memandang kelas, Munif Chatib sangat dipengaruhi oleh Bobbi de Porter (penulis “Quantum Teaching” dan “Quantum Learning”)yang melihat lingkungan belajar sebagai kesatuan “KONTEKS” dan “KONTEN”. Jika pada buku-buku sebelumnya penulis mendiskusikan pernak-pernik “KONTEN”, bukunya yang ini sangat terkait dengan memperkaya “KONTEKS” melalui manajemen display yang mampu memberikan dampak positif dalam merangsang dan mempertahankan hasrat belajar siswa. Pandangan-pandangan penulis dan pakar pendidikan lainnya, seperti Barbara K. Given, Eric Jensen, Harry K. Wong, mewarnai pembahasan tentang bagaimana guru dapat membangun suasana kelas yang positif di dalam buku ini.

Penulis mengawali Bab 1 nya dengan memaparkan peranan otak reptil dengan hasrat belajar. Kemudian penulis mengingatkan pembaca tentang kecenderungan kita mempersempit konteks lingkungan belajar  kedalam kelas yang kaku pada Bab 2. Pada bab selanjutnya, penulis menunjukkan bagaimana kekakuan kelas dapat dinetralkan dan dikembalikan pada fungsinya sebagai tempat belajar yang menyenangkan dengan memberdayakan display. Pada Bab 4 fungsi display sebagai alat bantu untuk menciptakan lingkungan belajar yang kaya informasipun dieksplorasi.  Akhirnya, berbagai ide dan contoh tentang menata display penulis tuangkan di Bab 5.

Buku ini membicarakan hal sederhana dan berdaya namun seringkali kita lupa. Penataan lingkungan belajar yang nyaman menyampaikan pesan tersirat kepada otak reptil bahwa kelas dan sekolah merupakan tempat yang aman dan nyaman bagi siapapun untuk mengeksplorasi “dunia”nya.  Apresiasi yang tinggi layak penulis terima yang kegigihannya mengingatkan seluruh insan pendidikan untuk meletakkan fitrah pendidikan: memanusiakan manusia.

(Widie Dewantara – Menjelang Dhuhur)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s