REFLEKSI – Mereka Membutuhkan Keteladanan, Prosedur dan Konsistensi

Posted: February 22, 2015 in Teaching Reflection
Tags: , ,

102_2137“Kelas kita sekarang lebih bersih ya, Uncle!” komentar Mandala yang sedang duduk melingkar di lantai bersama siswa-siswa lainnya.

Teman-temannya melempar senyum menyepakatinya. Meresponnya, saya mengangguk pertanda setuju. Tadi pagi, mereka singkirkan meja-meja di kelas dan lebih memilih belajar dengan duduk di lantai. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang berbaring di lantai sambil menyelesaikan tugas yang saya berikan.

“Lebih santai”, begitu celetuk mereka kala saya tanyakan alasannya.

Anak-anak ini, kini dapat menikmati ruang kelasnya yang lebih bersih. Sepatu ditanggalkan dan tersusun rapi di luar kelas. Lantainya disapu tiap jam istirahat dan seusai pelajaran setiap harinya, lalu dipel setiap dua hari sekali. Kaca-kaca yang mengisi kusen jendelanya dibersihkan tiga kali seminggu. Laci-laci mejapun tak banyak menyisakan sampah. Sapu, pel, kemoceng dan ember tertata rapi di tempat yang sama setiap harinya, di salah satu sudut kelas. Bukan … bukan petugas cleaning service yang melakukannya. Para siswa inilah yang mengerjakannya sendiri.

Namun awal tahun ajaran yang lalu tidak seperti ini pemandangannya. Kisah ini berawal saat saya didaulat menjadi wali kelas mereka. Semula, lantai kelas penuh dengan noda lama. Papan tulis putihnya kusam oleh bekas spidol yang tak terhapus tuntas. Sampah berserakan di sudut ruangan dan terselip pada laci meja. Aroma tak sedapun dapat tercium oleh siapapun yang berdiri di pintunya. Sepertinya ruang ini tak terawat oleh pendahulunya. Siswa saya yang baru saja menghuninyapun enggan membersihkan dan merapikannya. Aura negatif kelas meniupkan rasa malas untuk beraktifitas di dalamnya, termasuk belajar. Di atas kondisi itu, saya menyadari tak akan berakhir pemandangan yang memilukan  ini jika siswa dan saya hanya mengeluh lalu saling menyalahkan.

Berharap dapat memberikan contoh bagi mereka, tanpa banyak kata, saya pun rutin merapikan susunan meja, menyapu dan mengepel kelas setelah para siswa pulang. Sendirian! Meski daftar siswa yang bertugas membersihkan sudah tertempel di salah satu dinding kelas, tak satupun siswa tergerak membantu. Dua minggu setelahnya kelas menjadi bersih namun siswa masih enggan berpartisipasi menjaga kebersihannya. Ternyata, keteladanan tak cukup menggerakkan siswa-siswa ini. Mereka berjumlah 36 orang. Setengah dari mereka dibesarkan dalam lingkungan sosial yang kurang menguntungkan bagi perkembangan kognisi dan afeksinya. Tak heran jika kemudian mereka tumbuh dengan tingkat kepedulian, rentang kesabaran, kemauan berpartisipasi, keberanian memutuskan dan ukuran ketekunan yang kecil. Menasehati mereka? Jangan harap gelombang suara guru dapat menggetarkan gendang telinga mereka. Namun demikian, saya meyakini anak-anak ini akan bereaksi secara berbeda jika lingkungan belajarnya di setting dengan cara yang tak sama. Maka susunan petugas kebersihan kelaspun saya tambahi dengan mencantumkan tugas spesifik yang harus dilakukan. Hal tersebut menjadikan saya lebih mudah untuk memintai pertanggungjawaban mereka. Sebagian dari 18 buah meja yang yang tadinya memenuhi ruang 6 x 7 ini dikeluarkan dan diganti dengan kursi berlengan yang dapat digunakan untuk menulis. Pikir saya, kursi ini lebih memudahkan mobilitas siswa. Lagipula,  tak menyisakan ruang tersembunyi bagi sampah. Kursi-kursi itupun kini disusun saling berhadapan, sehingga ruang antar meja menjadi lebih luas, nyaman untuk berlalu lalang. Lalu, kami bersepakat untuk menanggalkan sepatu diluar kelas sehingga lantai steril dari pasir dan tanah. Tak lupa sebuah akuarium dan tanaman hias diletakkan pada bagian depan sekedar untuk membawa unsur alam ke dalam kelas.

Pada minggu ketiga, para siswa mulai berpartisipasi membersihkan kelas secara rutin dan bergantian. Selama proses itu, saya ikut bekerja bersama mereka: menyiapkan air untuk mengepel, menghias papan tulis, memberi makan ikan di aquarium hanya sekedar untuk membangun ikatan emosional. Tak mudah memang, saya juga masih harus menunjukkan mereka cara menyapu, mengepel dan membersihkan jendela. Pada awalnya, hasil pekerjaan mereka jauh dari harapan. Namun seiring dengan waktu, mendampingi mereka secara berulang-ulang, menjadikan mereka ahli pada tugasnya masing-masing. Hingga titik ini, saya baru menyadari bahwa ketiadaan pengetahuan prosedural dan konsistensi dalam mendampingi anak-anak inilah yang menghalangi mereka untuk berperan aktif  selama ini.

Ketika tulisan ini saya unggah, sudah delapan bulan saya menjadi bersama mereka. Saya masih tetap mengawasi rutinitas mereka membersihkan ruang kelas. Ya, hanya mengawasi dan tak perlu lagi saya menyapu dan mengepel kelas sendirian. Mereka yang melakukannya sendiri. Tak perlu lagi saya bersusah payah meminta mereka untuk membersihkan ruang belajar kami. Budaya bersih itu sudah terbentuk. Dan menariknya, semangat bersih-bersih ini mulai menular ke kelas-kelas lainnya. Aha, pahamlah saya kini bahwa untuk mendorong siswa mewujudkan nilai-nilai luhur menjadi tindakan nyata, merupakan hal penting bagi guru untuk tidak hanya mencontohkan dan membekali pengetahuan konseptual saja namun juga menunjukkan caranya (pengetahuan prosedural). Dan tak kalah pentingnya  adalah kesungguhan guru untuk terus-menerus melibatkan diri secara emosional dan fisik dalam upaya menumbuhkan nilai-nilai kebaikan pada anak didiknya.

Pada sebuah pertemuan, salah satu orang tua mengeluh bahwa putrinya yang rajin membersihkan ruang kelas itu ternyata enggan membersihkan rumahnya sendiri. Di luar pertemuan itu, sang anak mengadu pada saya, betapa orangtuanya tak konsisten dalam meneladankan sikap menjaga kebersihan rumahnya. Menyadari permasalahan mereka saya hanya bisa tersenyum.

(di unggah dari ruang tamu istanaku)

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s