REFLEKSI – Kelas Tanpa Dinding

Posted: March 8, 2015 in Teaching Reflection
Tags: , , ,

Seorang guru bersungut-sungut kembali masuk ke ruangan padahal bel pergantian jam baru saja berdering.
“Mereka sudah keterlaluan.” ungkapnya kesal.

Entah apa lagi yang dilakukan siswa di kelas itu sehingga menambah daftar guru yang dibuat kesal bertambah panjang. Terlalu sering terdengar para guru memperbincangkan kelas yang satu ini. Tentang siswa putranya yang acapkali sibuk sendiri, tentang siswa putrinya yang asik mengobrol tanpa henti, tentang materi pembelajaran yang tak tuntas dipelajari, tentang tugas sekolah yang seringkali tak jadi, tentang … ah terlalu panjang untuk dituliskan kembali.

Saya juga mengajar anak-anak itu. Kelas mereka berdimensi 9 x 7 meter, memang tak cukup luas untuk 34 siswa. Terletak di bagian samping sekolah yang tertutup oleh bangunan lain menjadikan kelas ini tak cukup terang. Empat buah lampunya yang temaram tak cukup sebagai penerangan. Deretan jendela dan ventilasi tak mampu memberikan ruang bagi sirkulasi udara. Langit-langitnya rendah menyebabkan kelas terasa pengap. Keempat kipas angin yang menempel pada dindingnya hanya menggerakkan udara panas. Pendingin ruangannyapun tak sanggup memberikan kesejukan. Maklum saja, ini hanya ruang kelas sementara sembari menunggu ruang kelas mereka selesai dibangun.

Siapapun dapat merasakan betapa tidak nyamannya berada di kelas itu. Kita semua tahu, ketidaknyamanan fisik mampu menghadirkan emosi negatif yang menyabotase kemampuan otak untuk mengolah dan menata informasi yang dipelajarinya. Dalam keadaan demikian guru menjadi tidak menarik untuk diperhatikan dan pelajaran menjadi tidak mudah dimaknai. Otak siswapun mencari kompensasi atas tekanan emosional dan stres fisik yang dialaminya. Alih-alih berfokus pada kelas, siswa mulai menunjukkan prilaku yang menghambat lajunya proses pembelajaran. Saling melemparkan potongan-potongan kertas, berbicara dan bercanda sesukanya, enggan terlibat dalam diskusi kelas, ataupun keluar dan masuk ruangan menjadi lazim terlihat dalam kelas yang tidak memberikan kenyamanan fisik dan emosional. Gejala yang terindera inilah yang kemudian diterjemahkan sebagai prilaku yang “keterlaluan” oleh guru

Berharap dapat mengatasi kebosanan dan ketidaknyaman yang mendera para siswa, saya mengajak mereka berpindah ke luar ruangan. Mereka bersorak, mengemasi buku dan alat tulisnya lalu berhamburan keluar. Beberapa siswa putra sigap memindahkan papan tulis dan siswa putri bersegera menyiapkan tikar. Siswa dan saya duduk melingkar di bawah pohon di halaman sekolah. Pelajaranpun dimulai. Tak mengapa tanpa meja dan kursi, kami punya tanah. Tak perlu lampu, kami punya matahari. Tak berguna pendingin ruangan, kami punya angin. Tak usah beratap, kami punya rimbunnya dedaunan. Tak ada dinding pembatas, kelas kami memang tak berbatas!

Di bawah pohon di halaman sekolah, siswa-siswa ini menunjukkan kemauan dan kemampuan belajarnya: mendengarkan penjelasan saya, terlibat dalam diskusi, menghafalkan kosa kata, mempraktekan dialog lalu mensimulasikan situasi komunikasi. Teringat saya dengan hirarki kebutuhan yang digagas oleh Maslow yang digambarkan sebagai sebuah piramida dimana setiap orang akan memuaskan kebutuhan yang lebih rendah sebelum kebutuhan yang lebih tinggi dicapai. Dalam konteks ini, nampaknya belajar di luar kelas mampu memuaskan kebutuhan “rasa aman” siswa akan ruang belajar yang nyaman sebelum mereka memenuhi kebutuhan akan “kasih sayang” dan “penghargaan”. Semakin jelas kini, penataan lingkungan belajar sangat mempengaruhi kondisi emosi siswa dan emosi selalu mendahului semua proses berpikirnya. Bertolak dari pemahaman ini, tak ada yang menyangkal bahwa lingkungan belajar yang kondusif pastilah menstimulasi emosi siswa secara positif dan dalam keadaan emosi yang positif inilah siswa dapat membuka diri dan memperluas kenyamanan untuk terlibat dalam proses pembelajaran.

Perlu digarisbawahi, bahwa lingkungan belajar yang nyaman tidak melulu tentang kemewahan bangunan dan tingginya teknologi. Lingkungan belajar yang kondusif dapat tercipta dari kelas tanpa meja dan kursi, tanpa lampu, tanpa pendingin ruangan dan tanpa dinding. Ini bukan tentang seberapa banyak fasilitas yang dimiliki sekolah namun tentang seberapa kreatif guru memanfaatkan fasilitas yang ada. Maka yang menjadi faktor penting dalam merancang lingkungan belajar adalah pemahaman guru terhadap kondisi psikologis dan bagaimana otak memproses informasi. Pemahaman tersebut menjadikan guru terampil berempati dg situasi belajar yang dihadapi siswanya dan mendorongnya menemukan cara untuk menata panggung belajar dimana masing-masing siswa dapat mementaskan kemampuan terbaik mereka. Tidak dipungkiri, bagi institusi pendidikan, melengkapi diri dengan berbagai fasilitas belajar terkini berharga puluhan hingga ratusan juta mungkin adalah hal yang penting, namun demikian memiliki guru yang berpengetahuan dan trampil dalam merancang lingkungan belajar  merupakan investasi yang tak terukur harganya.

Di hari lain, di kelas yang sama. Para siswa sudah bersiap dengan buku dan semua perlengkapan belajar ketika saya memasuki ruang kelas. Binar mata mereka pancarkan semangat belajarnya. Ada yang mereka nanti-nanti kedatangannya hari ini.
“Ayo uncle,” teriak seorang siswa setibanya saya di meja guru.
“Kemana?” tanya saya berpura-pura tidak paham.
“Kelas kita kan di sana” siswa lain menimpali pertanyaan saya. Bibirnya menyungging senyum dan tangannya menunjuk ke arah luar kelas seolah tahu apa yang akan terjadi di sana.
Saya mengangguk dan disambut sorak sorai mereka.

Di bawah pohon di halaman sekolah, kami temukan kegembiraan dalam belajar, tanpa meja dan kursi, tanpa lampu, tanpa pendingin ruangan dan tanpa dinding.

Advertisements
Comments
  1. Widie Dewantara says:

    Jangan khawatir… uncle kan pawang hujan … hahaha

  2. Anonymous says:

    sugii uncle… arigatho… 🙂

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s