REFLEKSI – Menantang: Do the extra efforts

Posted: May 5, 2016 in Teaching Reflection
Tags: , , , , , ,

“Menantang!” demikian sahut saya setiap kali ditanya bagaimana perasaan saya mengajar anak-anak itu.  Tentu saja menantang karena mengajarkan bahasa Inggris kepada mereka membutuhkan extra efforts. Kesabaran ekstra, tenaga ekstra dan strategi ekstra diperlukan untuk mengelola kegiatan pembelajaran mereka.

Meminta mereka memunguti sampah yang berserakan di dalam kelas, menata kembali meja dan kursi, menenangkan mereka yang asik mengobrol sendiri, membangunkan mereka yang tertidur, memastikan kelengkapan buku dan bolpoin mereka menjadi kesibukan rutin yang tak pernah tertulis pada butir kegiatan pembuka RPP. Belum lagi kehebohan lain kala mereka mogok belajar ataupun bertengkar. It’s not merely about teaching English. Mengkondisikan mereka untuk siap secara mental dan fisik untuk belajar membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang sisi psikologis mereka.

Menyelami kehidupan mereka membekali saya kesabaran yang (mungkin) sedikit lebih banyak jika dibandingkan dengan guru yang tak memahami sisi ketidakberuntungan anak-anak itu. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang kering kasih sayang dan lingkungan sosial yang gersang keteladanan menjadikan anak-anak itu tumbuh dengan kebutuhan afeksi yang terabaikan. Konsekuensinya, mereka tumbuh menjadi remaja yang ego-sentris dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Nampaknya hal ini yang kemudian bertransformasi menjadi prilaku yang tidak menyenangkan di dalam kelas.  Daripada menghabiskan energi untuk memarahi kekonyolan mereka, saya lebih sering memilih untuk melihatnya dari sisi yang lain lalu menertawainya saja agar tumbuh kemampuan untuk menjadikan kelas ceria. Harapannya sederhana saja, semoga kesabaran guru ketika siswanya menjengkelkan dapat meneladankan mereka untuk bersabar ketika hari-hari yang mereka lalui nanti menjengkelkan.

Berbekal kesabaran ekstra itu pula, saya pikir, yang membuat saya sanggup mengalokasikan tenaga yang lebih besar lagi untuk mendorong anak-anak itu untuk menikmati pembelajaran bahasa Inggrisnya. Mengecek satu persatu ejaan dan pengucapan mereka, memberikan bantuan personal dari meja ke meja, bertoleransi pada ketidakpahaman mereka, mewarnai hari-hari saya mengajar yang membangun ikatan emosional yang positif antara siswa dan guru. Hal ini memberikan keuntungan di kemudian hari: kelas akan lebih mudah dikelola ketika hubungan yang saling menghormati antara guru dan siswa terbangun. Kekonyolan mereka ternyata hanya terjadi di awal-awal pertemuan sebelum terbentuknya rapport.

Di sisi lain berbagai” kekonyolan” anak-anak itu mendorong saya untuk mempelajari cara-cara lama agar dapat menemukan cara-cara baru untuk membelajarkan mereka. Membuka kembali koleksi referensi yang tertata di rak, merevisi bahan ajar yang lama dan merancang kegiatan pembelajaran baru selalu tertera pada weekly-job list di buku agenda saya. Dalam keseruan mendaptasi dan berinovasi itulah, saya temukan salah satu keasyikan menjadi seorang guru.

Memang setelah semua extra effort itu, keadaan tidak selamanya membaik, selalu saja ada tantangan-tantangan lain yang seringkali membuat saya harus hening sejenak untuk berefleksi mengoreksi diri.  Dan di dalam keheningan itu saya temukan keasyikan-keasyikan lain menjadi seorang guru.

Pagi ini, ketika tulisan ini saya buat, di luar sana 34 siswa sedang menanti saya di kelas. Hari ini adalah hari libur, mereka dengan sukarela datang ke sekolah untuk belajar Bahasa Inggris. Kalau sudah demikian sayapun harus dengan sukarela menghadapi kekonyolan-kekonyolan baru mereka berbekal kesabaran ekstra, energi ekstra dan strategi ekstra.

Advertisements
Comments
  1. kk_cheers says:

    Belajar sama Uncle nggak pernah bosan.
    Seru dech liat uncle mengajar, sampai skripsi saya ajah tentang itu.
    Way to go, uncle.
    Keep it up.
    😉

  2. Erwin Widiyatmoko says:

    Kerja bareng ma teh rizka juga seru bgt ….

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s