REFLEKSI – Merancang Dengan Sederhana Namun Penuh Daya: TANDUR

Posted: December 22, 2016 in Teaching Reflection
Tags: , , , ,

“Jadi Uncle, …” seorang mahasiswa mengangkat tangannya pertanda ingin memuaskan rasa ingin tahunya.

“Bagaimana caranya  agar rancangan pembelajaran kita dapat membantu para siswa itu belajar dengan menyenangkan? Sementara motivasi belajar mereka rendah”, tanyanya kepada saya, mengungkapkan kegalauannya terhadap kondisi siswa yang akan mereka ajar.

“Rancanglah kegiatan pembelajaran dengan mengacu hasil penelitian tentang bagaimana otak menerima, menyimpan dan mengolah informasi” jelas saya mencoba menyederhanakan jawaban.

Hari itu, kami sedang berdiskusi tentang strategi merancang kegiatan pembelajaran. Saya sedang membimbing sejumlah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris – para calon guru – yang mengikuti program magang di sekolah kami. Sesaat sebelumnya, saya baru saja memberikan berbagai masukan pada dokumen RPP yang mereka  susun. Seperti halnya saya dulu, merekapun mengalami berbagai kebingungan dan kesulitan untuk mengembangkan bahan ajar dan menyusun kegiatan pembelajaran yang padu demi tercapainya tujuan pembelajaran. Tentu saja, bahan ajar dan urutan kegiatan pembelajaran yang dipilih secara acak dan tanpa dasar akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Maka siang itu, sayapun berbagi strategi yang biasanya saya praktikkan dalam mengembangkan bahan ajar dan menyusun RPP.

Saya sangat menyukai gagasan yang diajukan oleh Bobbi DePorter dalam bukunya Quantum Teaching. Kita mengenalnya dalam singkatan TANDUR dan gagasan ini pulalah yang saya tularkan pada para mahasiswa siang itu. Bobbi DePorter menyarankan agar guru membagi pembelajaran ke dalam beberapa tahap: Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan.  TANDUR merupakan sebuah platform berbasis penelitan tentang otak dan dapat diadaptasikan dalam menyusun kegiatan pembelajaran bahasa Inggris yang berbasis pada teks.

“Lantas, bagaimana mengadaptasikannya?” tanya saya membuka penjelasan  dan merekapun mengarahkan torsonya pada saya, pertanda siap menyimak jawabannya.

Hal pertama yang perlu dilakukan sebelum menyusun kegiatan pembelajaran adalah memastikan bahwa teks yang akan disajikan menggunakan bahasa dan bentuk yang sesuai. Terlebih, tidak semua teks yang disajikan oleh buku ajar menyajikan bahasa dan bentuk teks yang benar. Dan sayangnya,  guru seringkali abai untuk memeriksa kembali aspek ini pada bahan ajar yang akan disajikannya. Tentu saja pemilihan teks perlu mempertimbangkan keautentikan teks, kemampuan bahasa siswa serta latar belakang mereka dan juga tujuan pembelajaran. Guru perlu memutuskan untuk melakukan adaptasi atau adopsi pada  teks.  Setelah itu, kegiatan belajar pun baru dapat di susun dengan menggunakan TANDUR sebagai pendekatannya.

Pada tahap “Tanamkan”, guru perlu memastikan motivasi siswa terhadap pembelajaran tertanam dengan kuat sebagai pijakan untuk mempertahankan kegembiraan dalam belajar. Kejelasan tujuan pembelajaran yang akan dicapai merupakan hal yang penting dalam mempertahankan motivasi siswa. Melalui cerita, pemberian contoh,  ataupun brainstorming, guru dapat membantu siswa untuk melihat tujuan dan manfaat dari pembelajaran yang dilakukan. Dalam beberapa hal, tahap ini selaras dengan tahap Building Knowledge of the Text dalam pembelajaran bahasa berbasis teks.

Di tahap “Alami”, guru menyajikan teks yang akan dipelajari dan melibatkan siswa secara kognisi, afeksi maupun psikomotrik dalam kegiatan ini sehingga siswa memiliki gambaran yang utuh tentang konten dan konteks dari teks. Mengamati, membandingkan, mengkategorikan, memindai teks kerap mewarnai tahap yang serupa dengan Modelling of the Text ini.

Selanjutnya, siswa akan lebih banyak terlibat dalam kegiatan yang mengeksplorasi ketrampilan berbahasanya dalam tahap “Demonstrasi”. Tergantung pada ketrampilan yang ingin diajarkan. Pada tahap ini siswa dituntut untuk mempraktekkan ketrampilan berbahasanya baik secara bagian-bagian maupun secara utuh. Menjawab pertanyaan berdasarkan teks tulis ataupun rekaman percakapan, menemukan makna kata berdasarkan konteks, memodifikasi teks, melakukan permainan peran adalah beberapa kegiatan yang mungkin dilakukan pada tahap ini baik secara berkelompok maupun individual. Kegiatan semacam ini serupa dengan kegiatan pada tahap Joint Construction dan Independent Construction pada pendekatan berbasis teks.

“Ulangi” adalah tahap selanjutnya dimana siswa diminta untuk melakukan aktifitas “penguatan” seperti membuat catatan, memberikan respon, berefleksi, membuat kesimpulan, mempresentasikan ataupun mengkonfirmasikan yang ia dapatkan dalam pembalajaran tersebut. Meskipun dapat pula dilakukan di tahap yang lain, pada tahap ini menjadi hal yang penting untuk melatihkan siswa strategi berpikir kreatif, membuat peta pikiran, menghafal dan mengungkapkan pendapat secara terstruktur.

Kegiatan pembelajaran akan ditutup dengan ritual “Rayakan” yang ditujukan untuk menanamkan pemahaman bahwa gairah belajar dan upaya belajar yang dilakukan pada tingkat apapun pencapaiannya layak untuk dihargai dan direduplikasi pada kesempatan belajar lainnya. Pujian, bertepuk tangan, acungan jempol, meneriakkan yel-yel akan menyisakan kesenangan dan ketakjuban pada pikiran bawah sadar siswa terhadap pembelajaran.

“Sesederhana itu, Uncle?”, seorang mahasiswa yang lain merespon penjelasan singkat saya “Iya, tapi penuh daya.” jawab saya mengakhiri pertemuan sambil merujuk kepada para siswa yang menggilai pelajaran bahasa Inggris. Ah, semoga saja hasilnya menggembirakan.

Advertisements
Comments
  1. Anonymous says:

    Yes,itu ruh pembelajaran kan ya.sayangnya bnyak waktu guru habis menyusun administrasi jadi tidak ada ruh-nya.akan keren kalo admin kece dan pembelajaran berdaya

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s