ULASAN BUKU – Cara Mengajar Agar Siswa Tetap Ingat: Implementasi Penelitian Tentang Otak dalam Pengajaran

Posted: January 1, 2017 in Book Review
Tags: , , , ,

Buku yang berjudul asli How to Teach so Students Remember ini diterbitkan oleh Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD) pada tahun 2005. Versi Bahasa Indonesianya dialih bahasakan oleh Ikke Suhartinah dengan judul “Cara Mengajar Agar Siswa Tetap Ingat” dan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga pada tahun 2011. Di dalam buku setebal 189 halaman ini Marilee Sprenger mengimplementasikan teori ke dalam strategi yang dapat diberdayakan oleh guru untuk mengkonstruksi pengetahuan faktual, konseptual maupun prosedural siswa.

Marilee Sprenger adalah seorang konsultan ahli perkembangan profesional yang telah menghabiskan sebagian waktunya mengajar berbagai jenjang dan mengembangkan strategi pembelajaran berbasis otak. Di dalam buku ini, Sprenger mengkompilasi sejumlah teori  tentang bagaimana otak menyerap, memproses, menyimpan dan memanggil kembali informasi yang dibutuhkan.   Diantaranya adalah teori Kecerdasan Majemuk dan Taksonomi Kognisi. Berdasarkan teori-teori tersebut dan pengalamannya di dunia mengajar dan belajar, Sprenger mengajukan sebuah model pembelajaran.

Model pembelajaran yang dikemukakan oleh Sprenger bertujuan untuk membantu siswa menyerap informasi melalui memori sensori dan memindahkannya ke memori jangka pendek untuk kemudian diproses ke dalam memori jangka panjang. Hal ini dapat dilakukan melalui tujuh langkah dalam pembelajaran memori: Reach, Reflect, Recode, Reinforce, Rehearse, Review dan Retrieve.

Model pembelajaran yang dikemukakan oleh Sprenger tersebut terdiri dari sejumlah langkah sistematis untuk mendesain pembelajaran dengan memberdayakan memori otak. Langkah awalnya adalah Reach yaitu strategi untuk menarik perhatian siswa agar terlibat dalam pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal yang terkait dengan ranah afeksi. Reflect merupakan kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk mengoneksikan pengetahuan siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Pada kedua tahapan awal ini, siswa membutuhkan pengamatan yang mendalam dan memori sensori berperan besar mempengaruhi keberhasilannya.

Langkah ketiga adalah Recode. Ini merupakan proses yang mendorong siswa untuk menjelaskan informasi yang sedang dipelajari dalam bahasa mereka sendiri. Memori kerja memainkan peranan pentingnya di tahap ini. Selanjutnya adalah tahap yang Sprenger namai dengan Reinforce. Pada tahap ini, peran guru adalah memberikan umpan balik atas pemahaman konsep yang siswa kemukakan dalam tahap Recode. Hingga tahap ini siswa mengolah informasi yang dipelajari di dalam memori jangka pendeknya.

Langkah selanjutnya adalah memindahkan informasi tersebut ke memori jangka panjang. Maka perlu dilakukan kegiatan Rehearse berupa berbagai latihan yang ditujukan untuk mengulang informasi yang sedang dipelajari sehingga informasi tersebut dapat terinternalisasi di memori jangka panjang. Keefektifan tahap ini sangat mempengaruhi tahap berikutnya yaitu Review dimana siswa berkesempatan untuk mengakses informasi yang telah disimpannya dan menyederhanakannya di dalam memori kerja dan hasil penyederhanaan tersebut dapat tersimpan di dalam memori jangka panjang. Sebagai langkah terkahir, Retrieve adalah strategi untuk mengakses informasi dan menggunakannya untuk menjadi solusi terhadap suatu  permasalahan yang dihadapi.

Meski kaya dengan strategi menarik, buku yang teridiri dari 9 bab ini mungkin terasa sedikit sulit untuk dipahami bagi pembaca yang baru mengenal penelitian tentang otak. Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal diantaranya adalah teori yang diadaptasikan ke dalam buku ini tidak diberikan penjelasan yang mendetail sehingga pembaca sulit melihat kaitan antara implementasi teori tersebut ke dalam praktik pengajaran. Selain itu   penterjemahan kata yang kurang tepat ke dalam bahasa Indonesia menjadikan penjelasan di dalam buku ini terasa sedikit kaku ketika dibaca. Dan hal ini dirasa wajar mengingat menterjemahkan buku bertema akademik semacam ini bukan hal yang mudah jika tidak memiliki latar belakang akademik yang serupa. Itulah mengapa ketika membaca buku ini sayapun kerap kali merujuk pada buku aslinya yang berbahasa Inggris.

Namun demikian sistematika penulisan buku ini dapat membantu pemahaman pembaca. Dalam setiap penjelasannya penulis memulai dengan cerita yang pernah dialami oleh para guru lalu mengaitkannya dengan beberapa teori sebelum di implementasikan ke dalam langkah pembelajaran memori. Poin-poin penting pun di tuliskan dalam suatu bagian yang penulis sebut Catatan Berpikir dan setiap babnya akan diakhiri dengan ringkasan dan sesi refleksi. Tambah pula, penjelasan singkat tentang otak yang dituliskan pada bagian akhir buku ini dapat menjelaskan jalan pikiran penulis.

Bagaimanapu saya sangat mengapresiasi upaya penterjemahan dan penerbitan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia. Beragam strategi yang disajikan dalam buku ini layak dipertimbangkan di dalam konteks pengajaran di tanah air.

Advertisements
Comments
  1. Wahyu Widayati says:

    Sepertinya penting bgt ini buku utk para guru yg memang menginginkan pengajaran yg terbaik utk murid2nya…

  2. Erwin Widiyatmoko says:

    Benar mbak wahyu… saya punya softcopy versi bahasa inggrisnya…minat?

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s