ULASAN BUKU – Front of the Class: Guru itu bernama Sindrom Tourett

Posted: January 10, 2017 in Book Review
Tags: , , , ,

book-cover-front-of-the-class

Diejek oleh teman-teman sekolah, dikeluarkan dari kelas oleh guru, diusir dari restaurant dan bioskop, dipecat sebelum sempat bekerja, dan ditolak untuk menjadi guru di 24 sekolah adalah sedikit babak pengucilan dalam drama kehidupan Brad Cohen. Alih-alih mendapat dukungan, Brad di pandang sebelah mata oleh keluarga besarnya sendiri. Hanya ibu dan adiknya saja yang berada di pihaknya. Situasi yang tidak menguntungkan ini selalu dikarenakan prilaku aneh yang ditunjukkannya. Dalam situasi tertentu, Brad mengeluarkan serentetan celoteh keras dan tubuhnya menyentak-nyentak di luar kendalinya. Para psikolognya beranggapan bahwa ia sedang mengalami masalah pengendalian diri, bahkan adapula yang menganggapnya kesurupan.  Namun di kemudian hari, terungkap bahwa Brad menderita Sindrom Tourett.

Adalah Dr Georges Gilles de la Tourettes yang menemukan gangguan saraf langka ini pada tahun 1885. Gangguan ini menyebabkan gerenyet vocal dan otot secara berulang yang dikenal dengan istilah tik. Hingga masa Brad bersekolah – di tahun 1990an – belum banyak yang mengenal kelainan ini, bahkan keluarganya sendiri.

Kisah yang dituangkan dalam buku berjudul Front of the Class ini terinspirasi oleh kehidupan penulisnya sendiri, Brad Cohen. Bersama dengan co-writernya, Lisa Wysocky, Brad berhasil memaparkan bagian-bagian kehidupannya bersama SIndrom Tourett sedemikian menariknya hingga pada akhirnya Hallmark Hall of Fame menyadurnya dalam sebuah film berjudul sama di tahun 2008. Buku yang awalnya diterbitkan tahun 2005 ini telah di cetak dalam versi bahasa Indonesia oleh Tiga Kelana pada tahun 2010.  Pun perlu diakui, buku versi bahasa Indonesianya yang setebal 250 halaman ini sangat nyaman dibaca karena Ambhya Dhyaningrum sangat piawai mengalih bahasakannya.

Mengalami Sindrom Tourett sejak usia sekolah dasar, mengajarkan Brad untuk memperlakukan kelainannya ini sebagai sahabat karibnya. Brad berusaha mempelajari sindrom Tourett lebih jauh dan mengedukasi orang-orang tentang kelainan ini. Perlakuan buruk dari orang lain yang ia terima akibat sindrom ini telah membuatnya tumbuh menjadi orang yang cerdas melihat sisi baik dari setiap masalah yang dihadapi. Penghinaan yang ia peroleh di ruang kelas dan masalah akademi yang diakibatkan oleh sindrom Tourett justru mendorongnya untuk bercita-cita menjadi guru yang hebat. Berhasilkah dia?

Kepemimpinan, kepercayaan diri, kerja keras, kreatifitas, mewarnai tiap lembar kisah yang dituliskan. Hingga pada akhirnya pembaca akan tersadar tentang pelajaran hidup yang dikandungnya bahwa meskipun ada banyak hal yang di luar kendali mendatangi kehidupan kita, kita selalu punya kendali penuh pada cara kita meresponnya dengan baik.

Advertisements

You may leave your comment here:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s