Archive for the ‘Book Review’ Category

cover-aku-bisa

Menarik!

Di Bhutan, karena peduli dengan lingkungannya, sejumlah siswa berkolaborasi mendaur ulang berbagai barang bekas menjadi bahan ajar. Di Chilli, karena prihatin dengan sikap para pembeli di kantin sekolah, beberapa siswa bahu membahu membangun budaya antri. Di China, sekumpulan siswa bekerja sama melukis dinding agar setiap warga sekolah lebih tertarik menggunakan tangga daripada lift. Di India, sekelompok siswa berkerjasama mengajarkan para pekerja sekolah membaca dan menulis serta berbahasa Inggris agar para pekerja sekolah itu lebih dihargai oleh para siswa. Di Peru, segelintir siswa menggagas pertemuan orangtua siswa untuk menjembatani komunikasi  antara siswa dengan orangtuanya. Anak-anak sekolah ini adalah bagian dari gerakan Design For Change (DFC) yang digagas oleh Kiran Bir Sethi. (more…)

Advertisements

cover-the-first-days-of-school

Bagaimana guru bisa memotivasi siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran? Bagaimana guru bisa meningkatkan prestasi belajar mereka? Bagaimana guru bisa menjadikan mereka sebagai pembelajar yang mandiri?  Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanyalah sebagian dari kegelisahan “Bagaimana guru bisa …?” yang seringkali dilontarkan oleh para guru. Menemukan solusi atas permasalahan tersebut telah menjadi kebutuhan primer bagi para guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Harry K. Wong dan Rosemary T. Wong  membuka tulisan mereka dengan  meyakinkan para guru bahwa prestasi di akhir tahun ajaran berkaitan langsung dengan kemampuan guru membangun kendali yang baik terhadap kelas di minggu-minggu pertama tahun ajaran tersebut. Gagasan inilah yang menjadi tema besar buku yang berjudul  The First Days Of School

(more…)

cover-totto-chans-children

Tetsuko Kuroyanagi. Membaca nama ini, mungkin kita akan teringat dengan sebuah memoar yang ia tulis tentang masa kecilnya ketika bersekolah di Tomo Gakuen sebelum perang pasifik meluluhlantakkan Jepang. Totto Chan, begitu nama kecilnya, menjadi judul memoarnya yang terdahulu. Buku tersebut jugalah yang telah mengantarkan, Kuroyanagi, si seniman cantik ini menjadi seorang duta kemanusiaan UNICEF.
(more…)

cover-tinggalkan-sekolah-sebelum-terlambat

“Saya meninggalkan sekolah menengah karena bangku sekolah tidak membantu saya. Saya merasa bahwa saya membuang waktu. Jadi saya mengembangkan sebuah pendekatan sendiri terhadap pembelajaran. Saya belajar memprogram komputer. Sekarang usia saya 24 tahun. Selama empat tahun terakhir, saya adalah manajer bagian riset dan pengembangan untuk Apple Computer Mereka mempekerjakan saya karena saya terbukti bisa melakukan pekerjaan itu, meskipun saya tidak punya gelar” (more…)

book-cover-front-of-the-class

Diejek oleh teman-teman sekolah, dikeluarkan dari kelas oleh guru, diusir dari restaurant dan bioskop, dipecat sebelum sempat bekerja, dan ditolak untuk menjadi guru di 24 sekolah adalah sedikit babak pengucilan dalam drama kehidupan Brad Cohen. (more…)

dahsyatnya-brain-smart-teaching

Satu lagi buku yang mengusung gagasan penerapan Neuro Linguistik Program di dalam ruang kelas hadir di tahun 2012. Adalah Lucy Lidiawati dan Ade Julius Rizky penulis yang telah melahirkan buku berjudul Brain Smart Teaching dan dibidani oleh Penebar Plus. Sepasang penulis ini tentu saja sangat berkompeten di bidang NLP dan bahkan berlisensi internasional. Nampaknya, keprihatinan dan kepedulian mereka pada praktik pengajaran di sekolah yang mendorong kemunculan buku ini. (more…)

Buku yang berjudul asli How to Teach so Students Remember ini diterbitkan oleh Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD) pada tahun 2005. Versi Bahasa Indonesianya dialih bahasakan oleh Ikke Suhartinah dengan judul “Cara Mengajar Agar Siswa Tetap Ingat” dan diterbitkan oleh Penerbit Erlangga pada tahun 2011. Di dalam buku setebal 189 halaman ini Marilee Sprenger mengimplementasikan teori ke dalam strategi yang dapat diberdayakan oleh guru untuk mengkonstruksi pengetahuan faktual, konseptual maupun prosedural siswa. (more…)